Repelita Jakarta - Penulis Tere Liye mengkritik pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional yang menyebut ketidakmampuan orang tua memberikan uang jajan harian sebagai penyebab utama anak putus sekolah.
Menurut Tere Liye, pernyataan tersebut tidak sesuai dengan fakta lapangan yang ia temui selama mengunjungi berbagai sekolah di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Ia menegaskan bahwa selama bertahun-tahun mengunjungi sekolah, baik yang berfasilitas mewah maupun yang kondisinya sangat sederhana, ia tidak pernah menemukan anak berhenti sekolah hanya karena tidak memiliki uang jajan.
Justru banyak anak dari keluarga kurang mampu rela tidak jajan sama sekali demi bisa melanjutkan pendidikan mereka.
Tere Liye menjelaskan bahwa akar masalah utama putus sekolah adalah kemiskinan keluarga yang membuat orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, termasuk biaya sekolah meskipun ada program pendidikan gratis.
Ia menambahkan bahwa sekolah gratis sering kali hanya ilusi bagi keluarga miskin karena masih ada kebutuhan lain seperti seragam, buku, sepatu, dan transportasi yang tidak tertutup.
Penulis tersebut juga menyoroti tujuh faktor penyebab putus sekolah berdasarkan penelitian terpercaya, di mana faktor ekonomi dan anak terpaksa bekerja menjadi penyebab paling dominan.
Faktor lain seperti pernikahan dini, pandangan bahwa pendidikan tidak penting, akses sekolah yang sulit, disabilitas, serta bencana alam memiliki persentase lebih kecil.
Tere Liye menyatakan bahwa pernyataan pejabat yang menyalahkan uang jajan mencerminkan pengabaian fakta demi menyenangkan atasan atau mempertahankan jabatan.
Ia menilai sikap semacam itu sering muncul karena jabatan dapat mengubah pola pikir seseorang, dan banyak contoh pejabat yang kembali kritis setelah meninggalkan kekuasaan.
Menurut Tere Liye, pejabat seharusnya memahami realitas penyebab putus sekolah secara mendalam, bukan membuat pernyataan yang terkesan mengada-ada.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

