Repelita Yogyakarta - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto melayangkan surat terbuka kepada UNICEF dan menyatakan bahwa kematian siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, merupakan bukti kegagalan Presiden Prabowo Subianto dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan .
Surat bertanggal 5 Februari 2026 yang ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell itu menegaskan bahwa tragedi seorang anak kelas IV SD berinisial YBS (10) yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pulpen dan buku seharga kurang dari Rp10.000 adalah akibat dari kegagalan sistemik negara .
"Dunia macam apa yang kita tinggali saat seorang anak kehilangan nyawanya hanya karena ia tidak mampu membeli pena dan buku?" tulis BEM UGM dalam surat berbahasa Inggris tersebut, Kamis (5/2/2026) .
Tiyo Ardianto secara eksplisit menyebut bahwa kematian siswa SD di Ngada ini telah meruntuhkan seluruh pencapaian statistik pemerintah yang selama ini dipamerkan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai forum resmi .
"Presiden Prabowo hidup dalam imajinasinya sendiri. Angka-angka statistik yang ia pamerkan jelas jauh dari realitas masyarakat," kata Tiyo dalam keterangan persnya .
BEM UGM menilai pemerintah telah gagal menentukan prioritas kemanusiaan. Tiyo menyoroti ironi ketika pemerintah mampu menyumbang dana sebesar Rp16,7 triliun untuk Board of Peace di Gaza, sementara seorang anak kehilangan nyawa hanya karena tidak memiliki uang Rp10.000 untuk membeli perlengkapan sekolah .
"Menjadi ironi yang kejam ketika pemerintah mampu menyumbang dana sebesar Rp 16,7 triliun untuk Board of Peace yang kontroversial, sedangkan seorang anak bunuh diri karena tidak memiliki Rp 10.000 untuk membeli pulpen dan buku demi bersekolah," ungkap Tiyo .
Dalam suratnya, BEM UGM juga mengkritik kebijakan Makan Bergizi Gratis yang disebut menggerogoti anggaran Rp1,2 triliun per hari, namun dinilai tidak menyentuh akar persoalan ketimpangan pendidikan dan kemiskinan struktural .
"Ini bukan takdir, juga bukan insiden terisolasi, melainkan dapat dicegah dan merupakan hasil dari kegagalan sistemik. Tanggung jawab utama terletak pada negara, yang telah gagal melindungi salah satu warganya yang paling rentan," tegas Tiyo .
BEM UGM mendesak UNICEF untuk memperkuat perannya di Indonesia dengan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, menjaga anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak agar tragedi serupa tidak terulang kembali .
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana maupun Presiden Prabowo Subianto atas kritik pedas yang dilontarkan BEM UGM.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

