
Repelita Dhaka - Bangladesh menggelar pemilihan umum paling kompetitif sejak 2009 pada Kamis (12/2/2026), sekaligus menjadi pemilu pertama di dunia yang digelar pasca pemberontakan yang dipimpin Generasi Z dan sangat dipengaruhi oleh suara pemilih muda.
Pemilu ke-13 Bangladesh ini berlangsung di tengah situasi politik yang berbalik arah setelah pemerintahan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina tumbang akibat pemberontakan besar pada 2024, dan partainya, Awami League, resmi dilarang ikut serta dalam kontestasi kali ini .
Partai Nasionalis Bangladesh diprediksi luas bakal memenangkan pemilu, meski mendapat tantangan serius dari koalisi yang dipimpin partai Islam Jamaat-e-Islami yang juga didukung partai baru bentukan aktivis Gen Z, National Citizen Party .
Ketua BNP Tarique Rahman menyatakan keyakinannya bahwa partainya yang bertarung di 292 dari 300 kursi parlemen mampu mengamankan kemenangan dan membentuk pemerintahan.
Para analis menilai hasil pemilu yang tegas menjadi kunci pemulihan stabilitas nasional pasca gejolak politik berkepanjangan yang telah mengguncang industri utama, termasuk sektor garmen yang menjadikan Bangladesh sebagai eksportir pakaian terbesar kedua di dunia .
“Jajak pendapat menunjukkan BNP unggul, tetapi kita harus ingat bahwa sebagian besar pemilih masih belum menentukan pilihan,” kata Parvez Karim Abbasi, Direktur Eksekutif Centre for Governance Studies di Dhaka.
Ia menegaskan beberapa faktor akan membentuk hasil pemilu, termasuk bagaimana Gen Z yang mencakup sekitar seperempat dari total pemilih atau sekitar 40 juta jiwa menyalurkan suaranya, karena pilihan mereka akan membawa bobot yang besar .
Isu korupsi dan tekanan ekonomi mendominasi perhatian publik. Survei lembaga pemikir di Dhaka mencatat korupsi sebagai kekhawatiran terbesar di antara 128 juta pemilih, disusul inflasi dan kesempatan kerja.
Dari total 1,28 miliar penduduk, Bangladesh memiliki sekitar 127,7 juta pemilih terdaftar dengan hampir separuhnya berusia 18-35 tahun dan sekitar 10 juta warga akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya .
Sekitar 62 juta pemilih adalah perempuan, mendekati jumlah pemilih laki-laki, namun ironisnya hanya 83 kandidat perempuan yang bertarung dari total lebih dari 2.000 kandidat .
Pemungutan suara berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 16.30 waktu setempat dengan pengamanan ketat sekitar 958.000 personel kepolisian, militer, dan paramiliter di seluruh negeri .
Seorang pemilih, Mohammed Jobair Hossain (39), mengaku terakhir kali memilih pada 2008 dan merasa bersemangat karena dapat memilih secara bebas setelah 17 tahun .
Pemilu kali ini juga disertai referendum konstitusi yang dikenal sebagai July Charter, yang mencakup usulan pembentukan pemerintahan sementara yang netral, parlemen dua kamar, serta pembatasan masa jabatan perdana menteri maksimal dua periode .
Penghitungan suara dilakukan secara manual dan hasil awal diperkirakan baru akan diketahui Jumat (13/2/2026) pagi waktu setempat .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

