
Repelita Kendari - Sebuah video yang menunjukkan personel kepolisian mengalami cedera usai bentrokan dengan anggota TNI di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, telah menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Insiden tersebut terjadi pada hari Minggu tanggal 4 Januari 2026 sekitar pukul 17.30 waktu setempat berdasarkan informasi dari unggahan di akun X @Anak_Ogi.
Akun tersebut menyertakan keterangan yang menyatakan terjadi ketegangan antara personel TNI dan Brimob di Lapangan Lakarada, Buton Selatan, yang mengakibatkan beberapa polisi luka-luka.
"Panas bentrok TNI dan Brimob di lapangan Lakarada Buton Selatan, sejumlah Polisi luka-luka," tulis akun itu dalam keterangannya.
Kejadian ini berlangsung seusai pertandingan sepak bola minisoccer penyisihan antara tim La Maindo FC melawan La Beta FC yang digelar di lapangan tersebut.
Ratusan anggota TNI tiba-tiba memasuki area lapangan tempat sejumlah anggota Brimob berada sesaat setelah pertandingan usai.
Awalnya para penonton mengira kedatangan anggota TNI tersebut merupakan bagian dari perayaan kemenangan dengan sorak-sorai dan yel-yel.
Namun situasi berubah drastis ketika ratusan anggota TNI yang mengenakan pakaian olahraga langsung menerobos kerumunan penonton dan memasuki tengah lapangan.
Mereka kemudian diduga melakukan pemukulan terhadap anggota Brimob yang berada di lokasi kejadian sehingga menimbulkan bentrokan fisik.
Akibat insiden tersebut, sejumlah anggota Brimob dilaporkan mengalami luka-luka dan memerlukan perawatan medis.
Karena kalah dalam jumlah personel, sekitar dua puluh lima anggota Brimob memilih untuk meninggalkan lokasi guna menghindari konflik lebih lanjut dan menyelamatkan diri.
Dalam beberapa rekaman video yang beredar, terlihat jelas ratusan anggota TNI mengejar sejumlah pemain sepak bola yang diketahui merupakan anggota Brimob.
Beberapa pemain terlihat terkena pukulan, sementara yang lain berusaha menyelamatkan diri dengan melarikan diri dari serangan yang terjadi.
Hingga berita ini disampaikan, Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara Kombes Pol Iis Kristian belum memberikan pernyataan atau tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Demikian pula dengan Komandan Detasemen Polisi Militer XIV/3 Kendari, Letkol CPM Haryadi Budaya Pela, yang juga belum mengeluarkan keterangan tentang kejadian ini.
Banyak warganet yang menyayangkan tindakan kekerasan yang justru melibatkan aparat keamanan negara di ruang publik.
Mereka menilai peristiwa seperti ini sangat merusak citra institusi yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga ketertiban masyarakat.
“Bocah lulus SMA dikasi pendidikan 6 bulan udah dikasi kekuasaan ya begini jadinya. kek bocah tawuran, sok jagoan,” tulis salah seorang warganet dalam komentarnya.
Komentar lain dari pengguna media sosial mempertanyakan tingkat profesionalisme aparat yang terlibat dalam insiden memalukan ini.
Beberapa netizen menyatakan bahwa konflik antar aparat keamanan justru mempermalukan bangsa, terlebih terjadi di hadapan publik.
“Aneh, perang bukan lawan negara lain, tapi ribut sesama anak bangsa,” tulis netizen lainnya.
Tidak sedikit pula warganet yang mengingatkan agar bentrokan semacam ini tidak berujung pada tragedi yang lebih besar dan memakan korban jiwa.
“Jangan sampai bikin Kanjuruhan jilid dua,” tulis seorang pengguna media sosial.
Muncul juga komentar yang menyoroti tugas utama aparat keamanan yang seharusnya menjaga dan melindungi masyarakat, bukan terlibat konflik internal.
“Yang seharusnya melindungi dan menjaga penonton malah tawuran sendiri,” tulis komentar lainnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

