Repelita Yerusalem - Sebuah unggahan di platform X oleh akun @Emeliarjl pada 3 Januari 2026 menyoroti sejarah konflik Palestina-Israel melalui daftar panjang peristiwa kekerasan yang dikaitkan dengan pendirian negara Israel.
Postingan tersebut mengawali dengan gambar satir yang menggambarkan Israel sebagai pemenang Oscar untuk akting terbaik dalam memerankan korban.
Narasi kemudian mengajak pembaca untuk menyaksikan cerita pembentukan negara yang disebut ilegal melalui serangkaian insiden berdarah mulai dari tahun 1930-an.
Daftar dimulai dengan kekerasan di Haifa dan Yerusalem pada 1937 yang menewaskan banyak warga sipil Palestina.
Tahun 1939 mencatat peristiwa di Balad al-Sheikh serta Haifa yang menjadi bagian dari pemberontakan melawan mandat Inggris dan imigrasi Yahudi.
Memasuki 1947, serangan di Abbasiya, Al-Khisas, Bab al-Amud, Yerusalem, dan Sheikh Burek memperburuk ketegangan menjelang akhir mandat.
Pada 1948, gelombang besar kekerasan terjadi di Jaffa, Al-Saraya Al-Arab eta, Semiramis, Ramla, Yazur, Tabra Tulkarem, serta Deir Yassin yang menjadi simbol tragedi Nakba.
Peristiwa di Abu Shusha, Tantura, Lydda, Saliha, Al-Dawayima, Al-Husayniyya, Abu Kabir, serta kereta api Kairo-Haifa menambah korban pengungsian massal.
Kekerasan berlanjut di Qalunya, Nasir Al-Din, Tiberias, Haifa, Ayn Al-Zaytoun, Safed, dan Beit Daras yang memaksa ribuan warga Palestina meninggalkan rumah mereka.
Pasca 1948, insiden di Qibya tahun 1953 dan Khan Yunis pada 1956 melibatkan operasi militer Israel di wilayah sekitar.
Pada 1967, konflik di Yerusalem menandai pendudukan wilayah timur kota tersebut.
Dekade 1970-an menyaksikan serangan di Bahro Al Baquar tahun 1972 yang menargetkan sekolah dan warga sipil.
Pembantaian Sabra dan Shatila pada 1982 menjadi salah satu tragedi terbesar dengan ribuan korban pengungsi Palestina.
Insiden di Masjid Al Aqsa tahun 1990 serta Masjid Ibrahimi pada 1994 memperuncing isu keagamaan dalam konflik.
Abad 21 dibuka dengan operasi di Kamp Jenin tahun 2002 yang menuai kecaman internasional.
Konflik Gaza pada 2008, 2009, 2012, dan 2014 menyebabkan ribuan korban di enclave terkepung tersebut.
Demonstrasi perbatasan Gaza tahun 2018 dan 2019 berujung pada kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai.
Pada 2021, serangan di Jalan Wehda Gaza menambah daftar korban sipil tak berdosa.
Eskalasi di Gaza tahun 2022 serta Kamp Jenin pada 2023 memperburuk krisis kemanusiaan.
Narasi mengakhiri dengan genosida Gaza pada 2023, 2024, dan 2025 yang masih berlanjut hingga saat ini.
Unggahan tersebut menyimpulkan dengan ucapan terima kasih sarkastik kepada dana pajak AS, pemimpin Arab munafik, serta pemerintah Barat atas dukungan tanpa syarat mereka.
Editor: 91224 R-ID Elok

