
Repelita Jakarta - Wakil Koordinator Bidang Eksternal Kontras Andrie Yunus menilai pola intimidasi melalui teror semakin marak terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Aksi tersebut menargetkan kalangan jurnalis, pegiat hak asasi manusia, hingga kreator konten dengan bentuk ancaman lisan maupun pengiriman bangkai binatang.
Sepanjang tahun ini, kasus serupa tidak hanya menimpa pemengaruh media sosial, melainkan juga wartawan dari sebuah media yang menerima kepala babi serta bangkai tikus tanpa kepala.
Andrie menduga aparat negara membiarkan kejadian berulang semacam itu karena kurangnya upaya perlindungan terhadap warga.
Pemerintah dinilai gagal dalam menangkap pelaku serta memberikan rasa aman dan keadilan bagi para korban intimidasi.
Teror terus bertambah, namun respons negara tidak mampu menjamin perlindungan yang memadai hingga pengungkapan fakta secara tuntas.
Andrie menyoroti bahwa negara memiliki perangkat, sumber daya, serta dana yang cukup untuk mencegah aksi semacam ini.
Namun dalam kasus-kasus terkini, pemerintah terkesan tidak tanggap dan kurang berkomitmen dalam penanganan.
Pembiaran tersebut bagi Andrie merupakan wujud pelanggaran hak asasi manusia.
Negara melanggar HAM lantaran tidak bertindak serius dalam pengusutan, gagal membawa pelaku ke pengadilan, sehingga menciptakan kondisi impunitas.
Andrie mendesak aparat negara untuk melakukan penyelidikan mendalam dan mengungkap otak di balik rangkaian teror tersebut.
Keseriusan itu diperlukan guna mempertahankan suasana demokrasi yang sehat.
Aksi teror ini pada hakikatnya bertujuan meredam ekspresi kritik masyarakat yang menjadi mekanisme pengawasan terhadap penguasa.
Tempo berupaya meminta tanggapan dari Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai terkait isu ini.
Namun Natalius menyatakan dirinya belum mengetahui adanya intimidasi terhadap warga.
Ia mempertanyakan bagaimana bisa percaya ada teror jika tidak tahu siapa pelaku serta motif di baliknya.
Sebelumnya, sejumlah pegiat dan pemengaruh menjadi sasaran serupa.
Pemusik Aceh yang dikenal sebagai DJ Donny mengaku menerima paket berisi bangkai ayam disertai surat berisi ancaman.
Selain itu, kreator konten asal Aceh Shery Annavita melaporkan adanya pengiriman telur busuk serta aksi perusakan pada kendaraannya.
Tak ketinggalan, kediaman Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik mendapat kiriman bangkai ayam lengkap dengan pesan mengancam.
Intimidasi terhadap Iqbal diduga terkait aktivitas kampanyenya di Greenpeace, khususnya kritik atas respons pemerintah menghadapi musibah di wilayah Sumatera.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

