Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Pengamat Sebut Ambisi Kaesang Kuasai Jateng Hanya Mimpi di Siang Bolong

Repelita Solo - Ambisi Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai basis kekuatan partainya pada Pemilu 2029 mendapat respons kritis dari pengamat politik. Jamiluddin Ritonga menilai target tersebut tidak realistis dan mengibaratkannya seperti mimpi di siang bolong.

Analisis ini disampaikan Jamiluddin melalui pesan singkat pada Senin, 12 Januari 2026, menanggapi pernyataan Kaesang dalam Rakorwil DPW PSI Jawa Tengah di Solo beberapa hari sebelumnya. Saat itu, Kaesang menyatakan target memperoleh 17 kursi DPRD Provinsi dan 100 fraksi di tingkat kabupaten/kota.

Menurut Jamiluddin, langkah Kaesang memberikan target tinggi kepada kader memang merupakan bagian dari upaya membangun optimisme internal partai. Namun secara objektif, target menggeser dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Jawa Tengah dinilai mustahil tercapai dalam waktu dekat.

“Kaesang tampaknya coba menanamkan optimistis dengan memberi target tinggi ke kadernya di Jawa Tengah. Meskipun semua orang tahu target menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang gajah tidak realistis,” ujar Jamiluddin.

Dia menyoroti bahwa PSI dinilai tidak memiliki sosok dengan nilai jual elektoral yang cukup kuat di wilayah tersebut, termasuk Kaesang sendiri sebagai ketua umum. Ketergantungan partai pada figur mantan Presiden Joko Widodo juga dinilai tidak akan efektif karena tren popularitasnya yang terus menurun.

“Kaesang bisa jadi berupaya mengandalkan bapaknya, Joko Widodo. Namun nilai jual Jokowi sejak lengser dari presiden hingga sekarang juga terus melorot,” jelas Jamiluddin.

Dia memprediksi bahwa daya tarik Jokowi justru akan mencapai titik terendah pada tahun 2029, bertepatan dengan momentum pemilihan umum yang ditargetkan PSI. Hal ini membuat harapan mengandalkan mantan presiden untuk mendongkrak suara partai dianggap sebagai perhitungan yang keliru.

“Bahkan dilihat dari trennya, nilai jual Jokowi akan sampai titik terendah pada tahun 2029. Karena itu, berharap Jokowi dapat mendongkrak suara PSI di Jawa Tengah, apalagi menjadikan kandang Gajah, kiranya hanya mimpi di siang bolong,” tegasnya.

Perbandingan antara PSI dan PDIP dinilai Jamiluddin seperti bumi dan langit, terutama dalam hal kapasitas kader dan kedalaman ideologi. Kader PDIP dinilai lebih memiliki pemahaman ideologis yang kuat sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa Tengah yang dikenal memiliki kesadaran politik tinggi.

Faktor sejarah dan kultural juga menjadi penghalang besar bagi PSI. PDIP telah membangun akar yang sangat dalam di Jawa Tengah selama puluhan tahun, sementara PSI masih dianggap sebagai partai baru yang belum memiliki basis massa yang solid.

“Selain itu, PDIP jauh lebih mengakar di Jawa Tengah. Hal ini membuat partai lain, apalagi PSI, akan sulit untuk menggusur PDIP dari Jawa Tengah,” tutup Jamiluddin.

Meski memberikan penilaian kritis, analisis ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi PSI untuk mengevaluasi strategi dan pendekatannya di Jawa Tengah. Pembangunan organisasi yang berkelanjutan dan konsistensi dalam pelayanan masyarakat menjadi faktor kunci untuk memperluas penerimaan pemilih.

Waktu menuju Pemilu 2029 masih cukup panjang bagi PSI untuk melakukan berbagai penyesuaian dan perbaikan. Namun tantangan terbesar tetap pada kemampuan partai untuk membangun identitas yang mandiri tanpa terlalu bergantung pada figur tertentu.

Masyarakat Jawa Tengah sebagai pemilik suara akhirnya akan menentukan pilihan berdasarkan kinerja dan kontribusi nyata setiap partai. Proses demokrasi yang sehat memungkinkan kompetisi yang fair sekaligus menjaga stabilitas politik di daerah tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved