
Repelita Jakarta - Direktur ABC Riset & Consulting Erizal menganalisis masa depan pencalonan Anies Baswedan dalam Pilpres 2029 seiring perkembangan Partai Gerakan Rakyat.
Analis Erizal mempertanyakan skenario yang akan terjadi apabila partai baru tersebut gagal memenuhi syarat sebagai peserta Pemilu mendatang.
Menurut Erizal, kemungkinan pertama adalah Anies Baswedan akan tetap maju sebagai calon presiden dengan diusung oleh partai politik lain sebagaimana terjadi pada Pilpres 2024.
Skenario kedua yang diungkapkan Erizal adalah mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut memilih untuk mengurungkan niatnya bertarung dalam kontestasi pilpres 2029 nanti.
Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat Sahrin Hamid secara terbuka mengakui bahwa proses pendirian partai politik di Indonesia sangatlah sulit.
Persyaratan yang harus dipenuhi termasuk kehadiran seratus persen di tingkat provinsi dan tujuh puluh lima persen di kabupaten serta kota.
Selain itu, partai juga harus memiliki perwakilan di lima puluh persen kecamatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Sahrin Hamid, syarat tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan proses pendirian partai paling ketat di dunia.
Oleh karena itu, Partai Gerakan Rakyat tidak akan otomatis lolos sebagai peserta pemilu tanpa kerja keras yang luar biasa dari semua kader.
Erizal menyoroti bahwa semangat saja tidak cukup dan harus dilengkapi dengan pengorbanan waktu, tenaga, serta dana yang sangat besar dari seluruh pendukung.
Sahrin Hamid menegaskan bahwa Partai Gerakan Rakyat identik dengan Anies Baswedan dan begitu pula sebaliknya.
Penetapan Anies sebagai calon presiden sejak dini bertujuan untuk memompa semangat kader dan simpatisan dalam memenuhi persyaratan.
Namun Erizal mempertanyakan mengapa Anies tidak langsung ditetapkan sebagai ketua umum atau setidaknya ketua dewan pembina partai.
Anies Baswedan saat ini hanya tercatat sebagai anggota kehormatan dalam struktur kepengurusan Partai Gerakan Rakyat.
Erizal menilai konfigurasi ini bisa jadi merupakan strategi politik untuk menjaga kemungkinan Anies tetap dapat maju meskipun partai gagal lolos.
Apabila Partai Gerakan Rakyat berhasil lolos sebagai peserta pemilu, maka menurut analisis Erizal hampir mustahil partai lain akan ikut mengusung Anies.
Mendukung Anies dari partai lain berarti ikut membesarkan dan menguatkan Partai Gerakan Rakyat sebagai pesaing politik.
Namun Erizal menyatakan jika partai tersebut gagal memenuhi syarat, Anies masih mungkin diusung oleh partai lain seperti yang terjadi pada pilpres sebelumnya.
Situasi tersebut bisa menimbulkan rasa malu bagi Anies karena partai yang mengusungnya sejak awal ternyata tidak lolos verifikasi.
Oleh karena itu, Erizal berpendapat Anies diharapkan dapat terlibat secara aktif dan total dalam proses pemenuhan syarat pendirian partai.
Penetapan Anies sebagai calon presiden sejak dini dinilai Erizal terburu-buru oleh sebagian kalangan pengamat politik.
Langkah yang lebih tepat menurut analisisnya adalah memastikan partai lolos sebagai peserta pemilu terlebih dahulu baru kemudian menetapkan calon.
Erizal mencatat bahwa partai-partai yang sudah memiliki kursi di DPR saja belum mengumumkan calon presiden untuk pilpres 2029.
Namun penetapan Anies sebagai calon presiden dianggap dapat menjadi energi pendorong bagi kader untuk memenuhi syarat yang sangat ketat.
Waktu yang tersisa untuk memenuhi seluruh persyaratan administrasi dan organisasi tersebut semakin terbatas.
Erizal menyimpulkan bahwa dilema ini menjadi tantangan berat bagi Partai Gerakan Rakyat dan figur Anies Baswedan dalam peta politik Indonesia ke depan.
Perjalanan menuju pilpres 2029 masih panjang dan penuh dengan dinamika serta ketidakpastian yang harus dihadapi menurut analis tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

