Repelita Jakarta - Ketua Kagama Cirebon Heru Subagia mengangkat isu viralnya Kezia Syifa yang memilih bergabung dengan Army National Guard Amerika Serikat sebagai bentuk tragedi kemanusiaan yang seharusnya menyentuh hati para pemimpin negeri ini.
Menurutnya pemerintah tidak cukup hanya menjatuhkan sanksi atau ancaman hukum kepada warga negara yang mencari peluang di luar negeri melainkan wajib menyediakan solusi konkret infrastruktur hukum serta kesempatan layak bagi mereka yang ingin berkarier atau mencari penghidupan lebih baik.
Kasus Syifa menjadi sorotan karena video viral menunjukkan ia diantar orang tua dan kerabat di bandara sebelum berangkat bergabung dengan militer Amerika.
Syifa dalam rekaman tersebut menjelaskan tiga alasan utama keputusannya termasuk sulit dan mahalnya menjadi tentara di Indonesia yang memerlukan biaya ratusan juta rupiah.
Jadi alasan aku kenapa mau jadi tentara Amerika yang pertama adalah jadi tentara di Indonesia itu sulit guys harus keluarin duit ratusan juta ujar Syifa dalam video yang beredar luas.
Heru Subagia menilai keputusan Syifa sebagai keterpaksaan paling pahit di tengah kondisi di mana akses menjadi abdi negara di tanah air terasa sangat sulit dan mahal bagi banyak anak bangsa.
Ia menekankan bahwa pemerintah seharusnya bertanggung jawab penuh dalam menyediakan lapangan kerja termasuk di sektor militer tanpa membebani calon prajurit dengan biaya besar.
Ironi semakin terasa ketika lulusan berkualitas seperti Syifa justru tidak mendapat tempat di negeri sendiri sementara biaya masuk TNI menjadi penghalang utama.
Penulis opini ini menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto yang memiliki latar belakang militer seharusnya merasa terluka melihat anak bangsa terpaksa hijrah ke institusi militer negara lain hanya karena akses ke TNI terhalang biaya tinggi.
Prabowo harusnya malu bahkan terluka dengan melihat anak bangsa ini justru berkarier di kedinasan militer negara lain akibat kondisi di dalam negeri yang tidak mendukung pungkas Heru Subagia.*
Editor: 91224 R-ID Elok

