Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Menlu Sugiono Peringatkan Dunia Masuk Zona Abu-Abu Berbahaya, Indonesia Harus Perkuat Ketahanan dan Mode Survival

 Menlu Sugiono Beberkan Tantangan yang Dihadapi RI, Ada Poly Crisis!

Repelita [Jakarta] - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyampaikan pandangan mengenai kondisi dunia yang saat ini tengah dihadapi oleh Indonesia.

Dia mengungkapkan bahwa situasi internasional sedang berada dalam fase yang semakin kompleks dan sulit untuk diprediksi.

Dinamika geopolitik, rivalitas antar kekuatan besar, konflik terbuka, serta krisis multidimensi menciptakan suatu ruang yang bersifat abu-abu.

“Saat ini kita hidup di ruang abu-abu yang berbahaya, di mana batas antara perdamaian dan perang tidak tegas, dan tanpa celah untuk salah membaca situasi," kata Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan di Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu, 14 Januari 2026.

Kondisi ini membuat pilihan yang dihadapi Indonesia menjadi semakin jelas, yaitu masuk ke dalam mode survival atau memperkuat ketahanan nasional.

Penguatan ketahanan nasional tersebut harus disertai dengan kapasitas untuk menentukan arah kebijakan secara mandiri tanpa tekanan eksternal.

Menurut analisisnya, ketahanan nasional menjadi fondasi utama yang tidak hanya mencakup aspek pertahanan dan keamanan.

Ketahanan nasional juga harus mencakup aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan diplomasi secara menyeluruh dan terintegrasi.

Dalam kerangka tersebut, politik luar negeri Indonesia tetap berpijak pada prinsip bebas aktif yang telah menjadi landasan historis.

Namun dia menegaskan bahwa prinsip ini tidak dapat dijalankan secara kaku di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat.

“Politik luar negeri Indonesia yang bebas, aktif, tetap berangkat dari amanat konstitusi, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, melindungi kepentingan nasional, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, namun dengan cara yang tidak bisa statis," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa dalam dunia yang sarat dengan tekanan dan kompetisi, negara tanpa strategi yang jelas berisiko terseret arus.

Sementara negara yang tidak memiliki ketahanan yang memadai rentan dieksploitasi oleh kepentingan kekuatan global.

“Dalam situasi ini, negara yang tidak punya strategi akan terseret, dan negara yang tidak punya ketahanan akan menjadi objek," katanya.

Indonesia, menurut Menteri Sugiono, tidak boleh jatuh ke dalam posisi pasif tersebut.

Realitas global harus dihadapi secara jujur tanpa ilusi dan tanpa pesimisme yang berlebihan.

Diplomasi Indonesia perlu diarahkan pada kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan pendekatan yang realistis.

Diplomasi yang realistis bukan berarti meninggalkan nilai-nilai dasar yang dipegang teguh.

Namun pendekatan tersebut harus menyesuaikan diri dengan ancaman dan peluang yang berkembang di kancah internasional.

“Dan Indonesia tentu saja tidak boleh berada di posisi itu.

Kita harus melihat dunia apa adanya, keras, kompetitif, dan semakin tidak terprediksi.

Oleh karena itu, diplomasi kita harus dibangun atas kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan realisme," ucap Sugiono.

Dia menekankan bahwa ancaman tidak lagi datang dalam bentuk tunggal dan krisis tidak muncul satu per satu.

Dinamika yang terjadi di luar negeri cepat atau lambat akan terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Diketahui bahwa Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada tanggal 3 Januari 2026 di Caracas.

Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan serangan segera ke Iran.

Isyarat tersebut disampaikan di tengah demonstrasi massal yang telah berlangsung di Iran selama lebih dari dua minggu.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved