
Repelita [Jakarta] - Koordinator Advokat Tim Pembela Ulama dan Aktivis Damai Hari Lubis menjelaskan alasan dirinya menyetujui ajakan Ketua TPUA Eggi Sudjana untuk menemui mantan Presiden Joko Widodo.
Dia mengungkapkan bahwa tidak dapat menolak permintaan tersebut karena alasan yang disampaikan oleh Eggi Sudjana.
“Bang Eggi menghubungi saya, DHL aku ini kan dihujat sama kawan-kawan karena 16 April (2025) tidak ikut (pertemuan dengan Jokowi) bertepatan dipanggil Mabes Polri.
Entah apa alasannya tidak hadir juga, (ternyata) beliau sakit, ada bukti medis, dan saya besuk ke RS Siloam Surabaya, RS Pertamina lanjut (berobat) keluar negeri.
Saya tidak berani nuduh dia bohong-bohongan karena ada medis recordnya.
Itu pertama,” kata dia seperti dikutip dari Kompas TV pada Rabu, 14 Januari 2026.
Alasan lain yang disampaikan adalah keinginan Eggi Sudjana untuk memberikan nasihat kepada mantan Presiden Joko Widodo.
Niat tersebut disampaikan dengan mengirimkan bahan perenungan dari Surah Taha ayat 41 hingga 46.
Kandungan ayat tersebut mengisahkan perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun dengan sikap lemah lembut.
“Kedua saya mau nasihati Jokowi.
Eggi ada surat Taha dikirim ke saya.
Seperti itu.
Kesepakatan karena ia senior, bicara seperti itu sehingga saya mau.
Yang penting jangan minta maaf dan (pertemuan) jangan dipublish,” tuturnya.
Damai Hari Lubis menegaskan bahwa tujuan pertemuan bukan untuk meminta maaf melainkan menyampaikan sesuatu secara langsung.
Eggi Sudjana ingin menyampaikan langsung kepada Joko Widodo terkait laporan polisi yang menjadikan mereka tersangka.
Dalam hal ini, Eggi Sudjana menyinggung Pasal 20 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
“Tidak boleh saya dilaporkan balik, apalagi saya juga pengacara,” kata Damai Hari Lubis menirukan pernyataan Eggi Sudjana.
“Saya ditanya, ok kan,” tambahnya.
Saat pertemuan berlangsung, Damai Hari Lubis memastikan tidak ada permintaan maaf yang disampaikan kepada Joko Widodo.
Dia menegaskan bahwa secara hukum maupun persepsi, silaturahmi tidak selalu berarti permohonan maaf.
“Tidak ada minta maaf.
Kalau persepsinya minta maaf datang silaturahim baik-baikan, memang dua duanya (baik-baikan),” tukasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

