Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Henri Subiakto Paparkan Dampak Besar jika Negara Punya Pemimpin Sudah Tua dan Anak Muda yang Dikarbit

 Terkait PIK 2 dan PSN Harus Diusut Secara Pidana! Henri Subiakto Serukan  Tindak Lanjut Hukum - Bisnis Bandung

Repelita Jakarta - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto, memaparkan analisis mendalam mengenai implikasi kepemimpinan yang dipegang oleh individu berusia sangat lanjut. Pernyataannya disampaikan melalui akun media sosial X pribadinya pada Minggu, 11 Januari 2026, menyoroti pola komunikasi yang cenderung timpang.

Menurutnya, figur pemimpin tua sering kali lebih dominan dalam menyampaikan pandangan berdasarkan pengalaman masa lalu. Keinginan untuk didengarkan dan diakui kerap mengalahkan kesediaan untuk membuka diri terhadap masukan maupun kritik konstruktif dari pihak lain.

“Kecenderungan orang yg sudah tua itu inginnya bicara dan didengarkan pengalaman dan pengetahuannya. Walau lawan bicara mungkin tidak tertarik atau bosan, tetap saja si orang tua ingin lebih banyak bercerita atau bahkan menasehati,” tulis Henri dalam cuitannya.

Dia menjelaskan bahwa meskipun niat untuk berbagi pengalaman itu positif, relevansi pengetahuan tersebut dengan kondisi kekinian sering dipertanyakan. Kesenjangan generasi dapat menyebabkan arahan yang diberikan tidak lagi sesuai dengan tantangan zaman yang dinamis dan serba cepat.

“Orang tua walau dunianya sudah tertinggal, mereka tetap ingin diakui dan merasa berguna, hingga ingin dihargai pengetahuannya. Akhirnya sering jadi kurang seimbang, kesediaan orang tua mendengarkan itu lebih sedikit dibanding keinginannya menumpahkan pengalaman yang sebenarnya acapkali tidak relevan lagi bagi yg muda,” jelasnya lebih lanjut.

Di sisi lain, Henri juga mengingatkan bahaya lain dalam rekrutmen kepemimpinan, yakni mengandalkan figur muda yang hanya tampak maju karena dikarbit. Kemajuan yang terlihat pada individu muda tersebut bukan berasal dari proses pembelajaran mandiri dan pengalaman teruji, melainkan hasil dorongan serta fasilitasi dari kekuatan di belakangnya.

“Karena anak muda pun bisa gak berguna jika majunya karena didorong dan dikarbit oleh kekuatan besar orang tuanya. Harus cari yang masih berjiwa muda, tapi terbukti maju karena pengalaman mandiri, dan maju karena teruji dalam studi,” tegas Henri Subiakto.

Dia menekankan bahwa kriteria utama pemimpin ideal bukanlah sekadar usia muda secara biologis, melainkan kematangan yang dibentuk melalui jejak rekam yang independen. Kapasitas intelektual yang terbukti melalui studi mendalam serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan menjadi prasyarat mutlak.

Pemimpin yang baik, menurutnya, adalah yang mampu menyelaraskan semangat muda dengan kebijaksanaan yang diperoleh dari pengalaman otentik. Figur seperti itu dianggap lebih terbuka dalam menerima berbagai masukan dan melihat masalah dari berbagai perspektif yang berbeda.

Henri memberikan perbandingan dengan kondisi kepemimpinan di Amerika Serikat sebagai contoh nyata dampak kepemimpinan usia lanjut. Dia menyoroti potensi kesenjangan antara sistem demokrasi formal dengan praktik pemerintahan sehari-hari yang mungkin kurang responsif.

“Punya presiden terlalu tua, jadi seperti Amerika Serikat sekarang, pemerintahannya bersistem demokrasi tapi substansinya cenderung otoriter. Banyak kebijakan yang mengabaikan masukan karena tak hirau dan tak mau mendengarkan dunia yang sudah berubah cepat,” paparnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved