Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Gubernur BI Akui Persepsi Pasar soal Pencalonan Ponakan Prabowo Tekan Rupiah, Analis Nilai Tak Berpengaruh Langsung

Repelita Jakarta - Pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia disebutkan memiliki kaitan dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Beberapa analisis menghubungkan kondisi ini dengan relasi keluarga Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan dari Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Menteri Keuangan mengomentari fenomena pelemahan mata uang nasional dengan menyebut adanya aktivitas spekulasi dari para pelaku pasar keuangan.

Narasi yang berkembang di kalangan pasar ini dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap independensi institusi bank sentral jika seorang kader partai politik memangku jabatan strategis di dalamnya.

“Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana. Wow, orang spekulasi dia independensinya hilang,” kata Menteri Keuangan di gedung DPR RI, Rabu (21/1/2026).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Ia menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh persepsi negatif pelaku pasar terhadap kondisi fiskal negara serta proses pencalonan seorang deputi gubernur.

“Persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,” kata Perry saat jumpa pers pada Rabu (21/1/2026).

Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi memberikan pandangan berbeda dengan menilai pencalonan tersebut tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja mata uang.

Ia menganggap anggapan yang menghubungkan kedua hal tersebut sebagai sebuah kesimpulan yang dibuat tanpa dasar yang kuat.

“Bahwa Thomas Jiwandono dicalonkan sebagai deputi gubernur Bank Indonesia itu gak ada pengaruhnya terhadap melemahnya mata uang rupiahya,” kata Ibrahim kepada fajar.co.id, Kamis (22/1/2026).

Menurut analisisnya, sosok Thomas Djiwandono justru membawa dampak positif karena merupakan seorang ekonom muda yang kompeten di bidang moneter.

“Thomas ekonom bagus, anak muda. Tempat yang paling bagus untuk Thomas memang Baknk Indonesia, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia,” katanya.

“Ilmunya itu kemungkinan besar akan dipakai di situ. Ya kita lihat bahwa di Bank Indonesia sendiri, yang banyak memberikan komentar-komentar itu adalah deputi. Dibandingkan dengan gubernur Bank Indonesia aja kan,” tambahnya.

Praktik pencalonan figur dengan latar belakang politik untuk menduduki posisi di bank sentral menurutnya bukan merupakan hal yang baru di tingkat global.

Ia memberikan contoh bagaimana di Amerika Serikat juga terjadi proses serupa dengan melibatkan kalangan politisi.

“Sama juga di Amerika. Di Amerika juga banyak deputi-deputi itu yang mencalonkan politisi, misalnya Trump sebagai presiden,” ucapnya.

Faktor pelemahan rupiah menurutnya lebih disebabkan oleh dua kelompok penyebab utama yaitu faktor eksternal dan internal perekonomian.

Faktor eksternal tersebut terutama berasal dari gejolak politik dan kebijakan perdagangan yang terjadi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.

“Kemudian setelah ditolak, Trump menerapkan biaya impor tambahan 10 persen yang akan berlaku di bulan Februari menjadi 25 persen. Kemudian mendapatkan serangan balik dari Uni Eropa, salah satu di dalam Prancis, Inggris,” paparnya.

Sementara faktor internal lebih terkait dengan kondisi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara yang hampir mencapai batas ambang tiga persen.

“Secara internal sendiri tentang masalah defisit fiskal, defisit fiskal tahun 2025 itu adalah mendekati 3 persen,” imbuhnya.

Laporan dari sejumlah media internasional menyebutkan pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia.

Kekhawatiran ini muncul setelah figur keponakan Presiden masuk dalam daftar kandidat calon deputi gubernur bank sentral.

Sepanjang bulan Januari tahun 2026, nilai tukar rupiah tercatat telah melemah sekitar dua persen terhadap mata uang dolar Amerika Serikat.

Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya.

Pada tahun sebelumnya, rupiah juga tercatat mengalami tekanan dengan pelemahan yang mencapai angka tiga setengah persen.

Pada perdagangan tanggal 20 Januari 2026, rupiah sempat mencapai posisi terendah pada level sekitar enam belas ribu sembilan ratus delapan puluh lima rupiah per dolar Amerika Serikat.

Pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2026, nilai tukar rupiah mengalami penguatan beberapa poin menjadi enam belas ribu sembilan ratus tiga puluh enam rupiah per dolar Amerika Serikat.

Angka-angka ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 di mana rupiah sempat mencapai level enam belas ribu delapan ratus rupiah.

Sementara pada periode krisis keuangan global tahun 2008, nilai tukar rupiah berada pada kisaran dua belas ribu enam ratus rupiah per dolar Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved