
Repelita Jakarta - Pengamat politik Erizal menyoroti kebiasaan mantan Presiden Joko Widodo serta putranya Gibran Rakabuming Raka yang kerap menyisipkan istilah teknologi mutakhir dalam pidato-pidato mereka.
Kata-kata seperti algoritma, kecerdasan buatan atau AI, hingga coding hampir selalu hadir dalam penyampaian keduanya.
Kebiasaan itu juga terlihat saat Jokowi menyampaikan pidato penutupan pada ajang Bloomberg New Economy Forum yang digelar di Singapura.
Menurut Erizal, penggunaan diksi-diksi tersebut seolah menjadi ciri khas untuk menegaskan bahwa mereka tetap mengikuti dinamika perkembangan zaman digital.
Erizal mengungkapkan bahwa pidato Jokowi atau Gibran terasa kurang lengkap tanpa adanya istilah-istilah modern semacam itu.
Di sisi lain, terkait isu ijazah yang masih menjadi perbincangan, seorang warganet memanfaatkan aplikasi kecerdasan buatan untuk melakukan percobaan unik.
Foto yang tertera pada ijazah atas nama Joko Widodo yang banyak beredar diproses menggunakan teknologi AI.
Proses tersebut bertujuan memprediksi bagaimana penampilan wajah pada foto itu jika telah mencapai usia sekitar 60 tahun.
Hasil prediksi menunjukkan wajah yang tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan sosok Joko Widodo sebagai presiden ke-7 Indonesia yang dikenal luas.
Erizal menilai temuan itu cukup mengejutkan dan memunculkan tanda tanya mengenai keakuratan aplikasi AI yang digunakan.
Ia juga mengaitkannya dengan respons sebelumnya dari asisten kecerdasan buatan bernama LISA buatan Universitas Gadjah Mada.
Saat itu, LISA menyatakan bahwa Jokowi pernah tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM namun tidak menyelesaikan studinya hingga tamat.
Salah satu hasil gambar dari pemrosesan aplikasi AI tersebut kemudian dibagikan melalui kanal YouTube QNC Opposite Channel.
Erizal pun mempertanyakan mana yang lebih dapat diandalkan antara output dari teknologi kecerdasan buatan atau pengakuan resmi dari manusia terkait.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

