
Repelita Jakarta - Pengamat politik Erizal menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto hampir pasti akan lebih memilih Agus Harimurti Yudhoyono daripada Gibran Rakabuming Raka sebagai calon penerus pada Pemilu 2029.
Penilaian itu didasarkan pada komposisi lingkaran terdekat Prabowo saat ini, seperti Teddy Indra Wijaya.
Keberadaan figur-figur tersebut membuat kubu Joko Widodo, termasuk kelompok yang dikenal sebagai Geng Solo, merasa khawatir terhadap Susilo Bambang Yudhoyono.
Erizal menyatakan bahwa kekhawatiran itu wajar muncul meskipun Susilo Bambang Yudhoyono belum melakukan gerakan signifikan.
Apalagi jika Susilo Bambang Yudhoyono mulai aktif secara politik, persaingan bisa semakin ketat dan penuh manuver.
Prabowo Subianto dinilai cenderung memilih Agus Harimurti Yudhoyono karena penampilannya yang gagah, muda, rapi, serta berpengetahuan luas.
Sebaliknya, Gibran Rakabuming Raka pernah mendapat saran dari Prabowo Subianto untuk memperbaiki gaya berpakaian yang dianggap kurang formal.
Itulah mengapa Prabowo Subianto sering memberikan tugas penting kepada Agus Harimurti Yudhoyono, bahkan hingga urusan luar negeri.
Erizal menghubungkan kecemasan kubu Joko Widodo dengan tuduhan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono berada di balik gugatan Roy Suryo dan kawan-kawan terhadap ijazah Joko Widodo.
Pernyataan Joko Widodo tentang adanya orang besar di belakang kasus itu langsung diarahkan publik ke Susilo Bambang Yudhoyono atau Partai Demokrat.
Kontroversi ijazah juga menyeret Gibran Rakabuming Raka, yang oleh Roy Suryo dan timnya dinyatakan tidak memiliki bukti kelulusan SMA.
Hal ini seolah memberikan keuntungan bagi Agus Harimurti Yudhoyono jika Gibran Rakabuming Raka terpojok.
Susilo Bambang Yudhoyono serta Partai Demokrat sudah menjadi sasaran utama tuduhan sejak awal kasus tersebut.
Pendukung Joko Widodo seperti Silfester Matutina dan Ade Darmawan semakin memperkuat spekulasi itu.
Meskipun pernah dibantah oleh Joko Widodo serta Kaesang Pangarep, bantahan itu terkesan hanya formalitas.
Ade Armando bahkan cenderung membenarkan dugaan tersebut.
Erizal mengakui adanya dendam politik dari Susilo Bambang Yudhoyono terhadap era Joko Widodo.
Partai Demokrat hampir direbut oleh Moeldoko yang saat itu menjabat Kepala Staf Kepresidenan.
Tidak ada intervensi dari Joko Widodo untuk menghentikan upaya tersebut.
Susilo Bambang Yudhoyono saat itu berada dalam posisi sangat rentan.
Penunjukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai menteri di akhir masa jabatan Joko Widodo dianggap sebagai upaya penebusan.
Namun Moeldoko tidak pernah mendapat sanksi dan tetap bertugas hingga akhir.
Penunjukan itu baru terjadi setelah Partai Demokrat mendukung kemenangan Gibran Rakabuming Raka.
Susilo Bambang Yudhoyono melewati masa sulit tanpa dukungan nyata dari pihak lain.
Meski hubungan pribadi Susilo Bambang Yudhoyono dengan Joko Widodo diklaim baik, Erizal melihat adanya manuver politik dari Partai Demokrat di awal tahun ini.
Manuver itu mirip dengan strategi Joko Widodo dalam menangani isu ijazahnya.
Susilo Bambang Yudhoyono memulai dengan somasi terhadap pihak yang mengaitkannya dengan kasus tersebut.
Langkah somasi bisa berlanjut ke laporan polisi jika tidak ada respons.
Jika sampai pada tahap itu, situasi politik akan semakin kompleks.
Kubu Joko Widodo tampaknya tidak ingin tinggal diam melihat strategi serupa digunakan.
Susilo Bambang Yudhoyono dicap lemah karena langsung mengambil jalur hukum.
Padahal Joko Widodo menghadapi berbagai tuduhan dengan sabar sebelum bertindak secara legal.
Erizal mempertanyakan apakah harus menunggu tuduhan serupa terhadap Susilo Bambang Yudhoyono baru bisa menempuh jalur hukum.
Sulit bagi pihak yang tidak melakukan refleksi diri.
Editor: 91224 R-ID Elok

