
Repelita - Terdapat kisah baru yang lebih dramatis mengenai Chiki Fawzi setelah ia dicopot secara mendadak dari daftar petugas haji untuk tahun 2026, menurut catatan Ketua Satupena Kalbar Rosadi Jamani.
Rosadi Jamani menyatakan bahwa jika kisah sebelumnya merupakan babak pembuka, maka perkembangan ini menjadi bagian paling melelahkan secara batin dalam perjalanan Chiki Fawzi.
Bukan karena tidak kuat secara fisik, melainkan karena alur hidupnya diperlakukan layaknya pintu geser otomatis yang terus dibuka dan ditutup dalam hitungan jam, tulis Rosadi.
Chiki sempat dicopot dari posisi petugas haji secara mendadak, kemudian seperti plot twist dalam cerita, ia ditarik kembali untuk mengemban tugas tersebut, ungkap Rosadi.
Namun ketika semua orang mengira kisah ini akan berakhir dengan kebahagiaan, Chiki justru memilih jalan yang lebih sunyi dengan menolak kembali dan memutuskan untuk move on, lanjutnya.
Publik pun dibuat bengong dengan perkembangan terbaru ini, sambil merasakan berbagai emosi mulai dari rasa kasihan, kebingungan, hingga kemarahan yang tidak jelas arahnya, kata Rosadi.
Kronologi dimulai dengan cara yang dinilai kejam dalam versi birokrasi melalui pemberitahuan mendadak hampir tanpa jeda untuk persiapan emosi, jelas Rosadi.
Chiki sudah berada di dalam lingkaran pelatihan dan telah mempelajari berbagai materi yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya, tutur Rosadi.
Ia bahkan sudah menyiapkan diri baik secara lahir maupun batin, serta telah membayangkan aroma debu di kota Madinah dan Makkah, ujar Rosadi.
Namun pada suatu malam di tengah kelas bahasa Arab, seorang pejabat dari Kementerian Haji menghampirinya tanpa drama dan basa-basi, cerita Rosadi.
Chiki diminta untuk pulang dan tidak dapat melanjutkan pelatihan lebih lanjut dengan titik yang mengakhiri segalanya, paparnya.
Beberapa jam sebelum keberangkatan, ia harus mengepak mimpi ke dalam koper dan membawanya pulang dalam keadaan diam tanpa penjelasan memadai, menurut Rosadi.
Alasan pencopotannya tidak pernah benar-benar dijelaskan secara jelas tanpa adanya ruang diskusi atau kesempatan untuk bertanya, tegas Rosadi.
Keputusan datang seperti palu sidang yang diketuk tanpa memberikan kesempatan pembelaan dari pihak yang bersangkutan, tambahnya.
Ironisnya, Chiki baru diberi tahu pada malam hari, padahal kabar tersebut menurut pengakuannya sudah beredar sejak siang hari, ungkap Rosadi.
Mungkin alasannya karena rasa tidak enak, atau mungkin juga karena keputusan seringkali lebih cepat datang daripada empati yang seharusnya diberikan, tulisnya.
Belum sempat luka mengering, telepon kembali berdering dengan permintaan agar Chiki kembali bergabung karena ada pihak yang ingin mempertahankannya, cerita Rosadi.
Ia bahkan sempat menyampaikan kepada wartawan bahwa dirinya akan kembali ke asrama haji pada hari Kamis tanggal 29 Januari 2026, kata Rosadi.
Publik kembali berharap bahwa mungkin kesalahan akan diperbaiki atau ada salah paham yang dapat diselesaikan dengan akhir yang baik, ujarnya.
Chiki pun sudah membuka koper kembali dan mempersiapkan hati untuk siap menjalani tugas, meskipun perasaan tidak semudah membuka resleting, tutur Rosadi.
Kemudian pagi harinya, cerita berbelok tajam melalui unggahan di Instagram Story dengan kalimat sederhana hampir tanpa hiasan emosi, jelas Rosadi.
Ia mengabarkan bahwa dirinya batal kembali bertugas sebagai petugas haji, dan saat dikonfirmasi jawabannya lebih singkat lagi, paparnya.
"Gak jadi lagi, mas," itulah jawaban yang terdengar seperti orang yang terlalu lelah untuk menjelaskan lebih lanjut tentang situasinya, menurut Rosadi.
Di situlah publik terdiam karena ini bukan lagi soal penolakan, melainkan dipermainkan oleh keadaan yang terus berubah, tulis Rosadi.
Dicopot kemudian ditarik kembali, lalu dibiarkan memilih sendiri setelah batin mengalami gejolak yang sangat berat, ungkapnya.
Chiki akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan tugas sebagai petugas haji tahun 2026 dengan mengaku sudah move on dari harapannya, kata Rosadi.
Sebuah kata yang terdengar ringan namun sebenarnya sangat berat, karena move on berarti mengikhlaskan mimpi yang sudah di depan mata, jelasnya.
Dari sisi Kementerian Haji dan Umrah, penjelasan resmi turun bahwa tidak semua peserta diklat petugas penyelenggara ibadah haji otomatis menjadi petugas, menurut keterangan resmi.
Proses seleksi berada di tangan tim pokja diklat dengan keputusan yang diambil berdasarkan standar dan evaluasi dari fasilitator terkait, sebagaimana diumumkan pihak kementerian.
Secara administrasi semua prosedur dinyatakan rapi, dan secara prosedural segala keputusan dianggap sah menurut aturan yang berlaku, menurut penjelasan resmi.
Namun publik tetap bertanya-tanya jika semua sudah dipertimbangkan dengan matang, mengapa kisahnya harus sedinamis ini tanpa kejelasan, tulis Rosadi.
Chiki tidak menyerang atau menggugat maupun memelintir narasi yang ada, melainkan memilih untuk menerima keadaan dengan lapang dada, ungkap Rosadi.
Ia menjelaskan bahwa langkah ini semata-mata agar tidak mengecewakan media yang sudah datang dari jauh karena terinspirasi oleh semangatnya, kata Rosadi.
Di titik ini, empati pembaca seharusnya berhenti berisik karena Chiki bukan sedang mencari pembenaran atas keputusannya, tulis Rosadi.
Ia hanya manusia yang sedang belajar ikhlas di tengah sistem yang bergerak terlalu cepat tanpa memberikan ruang untuk bernapas dengan lega, ungkapnya.
Kisah ini pun berakhir tanpa kemenangan besar, tanpa musuh yang jelas, dan tanpa tepuk tangan sebagai penutup yang meriah, menurut Rosadi.
Yang tersisa hanya satu potret seorang perempuan yang memilih pergi dengan kepala tegak, meskipun mimpinya ditarik ulur seperti tali layangan, tulisnya.
Publik hanya bisa menghela napas dengan perasaan kasihan karena ketulusannya, dan bingung karena ceritanya yang terasa absurd, kata Rosadi.
Mereka terdiam karena Chiki memilih mengalah dengan cara paling dewasa yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini, menurut Rosadi Jamani.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

