Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Tifa: Ketidakjelasan Ijazah Jokowi Rusak Fondasi Kejujuran Negara

Repelita Jakarta - Dokter Tifauzia Tyassuma kembali menyuarakan pendapatnya mengenai kontroversi seputar ijazah Presiden ke-7, Jokowi, yang masih menjadi topik hangat di kalangan masyarakat hingga saat ini.

Sebagai salah satu orang yang dilaporkan oleh Jokowi ke Polda Metro Jaya dan menjadi tersangka, dia menekankan bahwa isu yang berkembang sudah melampaui masalah dokumen pendidikan semata, tetapi telah menyentuh aspek moralitas bangsa secara keseluruhan.

Menurutnya, semakin lama perkara ijazah ini dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian yang jelas, semakin terlihat jelas betapa dalamnya luka terhadap nilai kejujuran yang sedang dialami oleh seluruh bangsa.

Dia mengungkapkan bahwa ketidakpastian yang terus dibiarkan seperti ini hanya akan membuka peluang bagi munculnya berbagai dugaan negatif di tengah masyarakat.

Bagi Tifauzia, ketika seorang mantan presiden diminta untuk memberikan penjelasan sederhana tentang latar belakang hidupnya sendiri tetapi justru memilih untuk bungkam, maka keheningan tersebut malah berubah menjadi wadah bagi berbagai prasangka buruk.

"Ketika seorang mantan presiden dimintai keterangan mengenai hal paling mendasar dalam riwayat hidupnya, namun memilih untuk tidak mengakui atau menjelaskan dengan terang, maka ruang hening yang tercipta tidak kosong. Ia terisi oleh kecurigaan, kemarahan, dan rasa dikhianati," katanya.

Tifauzia menegaskan bahwa sebuah bangsa mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan di bidang ekonomi, tetapi akan sulit bertahan dalam kondisi ketidakpastian di ranah moral.

“Rakyat bisa hidup dalam kekurangan ekonomi, tapi mereka sulit hidup dalam ketidakpastian moral," ungkapnya.

Dia juga menyentuh proses hukum yang sedang menjerat dirinya beserta dua orang lainnya yang aktif menyuarakan isu ini.

"Ketika kriminalisasi terhadap Roy, Rismon, dan saya sendiri tidak dihentikan, rakyat membaca situasi ini bukan sebagai penegakan hukum, melainkan sebagai upaya membungkam pertanyaan," paparnya.

Menurut Tifauzia, setiap bentuk pembungkaman seperti ini hanya akan memicu timbulnya perlawanan dari masyarakat secara luas, dan dia yakin bahwa kebenaran tidak pernah bisa dipadamkan sepenuhnya.

"Kebenaran tidak pernah bisa dibungkam, karena ia tidak hidup di mulut seseorang. Ia hidup di kepala jutaan orang," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa kontroversi ini telah menjadi bagian dari cobaan moral bagi seluruh bangsa.

Dia menyebutkan bahwa apabila negara ingin terbebas dari kegelisahan sosial yang sedang melanda, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah menghentikan segala bentuk kriminalisasi, membuka kebenaran secara terang-terangan, dan memulihkan rasa keadilan di masyarakat.

Jika langkah-langkah tersebut tidak segera diambil, dia memperingatkan bahwa sejarah akan memberikan konsekuensinya sendiri.

“Jika negara ingin selamat, hentikan kriminalisasi. Jika bangsa ingin tenang, ungkaplah kebenaran. Jika ingin mencegah kerusuhan, pulihkan keadilan," tegasnya.

Tifauzia menyampaikan bahwa masyarakat hanya mengharapkan adanya transparansi penuh, yakni mengetahui dengan pasti siapa yang sebenarnya berbohong dalam perkara yang telah berlarut-larut ini.

“Rakyat tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin tahu bahwa negara yang mereka bayar pajaknya tidak dibangun di atas fondasi dusta," pungkasnya seperti yang dikutip pada Selasa (2/12/2025).

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved