
Repelita [Jakarta] - Ketua Umum Partai Amanat Nasional sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan putrinya Zita Anjani, Wakil Ketua Umum PAN serta Utusan Khusus Presiden untuk Pariwisata, menjadi pusat kontroversi setelah rekaman mereka membersihkan lumpur di rumah warga korban banjir Sumatera menyebar luas di platform media sosial.
Alih-alih mendapat pujian atas inisiatif tersebut, klip video justru memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan yang menilai aksi itu sebagai pencitraan di tengah duka bencana yang masih berlangsung.
Salah satu pegiat media sosial Jhon Sitorus secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap penampilan pejabat tersebut.
Sumpah… gue muak, tulis Jhon Sitorus dalam unggahannya di X pada Jumat, 5 Desember 2025.
Dalam rekaman yang berlangsung singkat itu, Zita Anjani terlihat mengenakan rompi hitam dengan kaos hijau di baliknya, rambutnya diikat rapi, sambil mengangkat dan membuang lumpur dari lantai rumah warga yang terendam.
Ia menggunakan pel sederhana untuk mengelap endapan kotoran, sementara wajahnya menunjukkan upaya serius meski lingkungan masih berantakan pasca banjir.
Zulkifli Hasan atau Zulhas mengenakan kemeja putih dan sepatu bot oranye, memegang sekop untuk menggali dan membuang lumpur dari sudut-sudut ruangan.
Latar belakang video keduanya menunjukkan dinding rumah dengan warna cat serupa, mengonfirmasi bahwa keduanya berada di lokasi yang sama saat melakukan kunjungan tersebut.
Kedua rekaman ini menjadi viral dalam waktu singkat, memicu perdebatan sengit di kalangan netizen tentang etika pejabat dalam menangani bencana alam yang telah menewaskan ratusan jiwa di Sumatera.
Banyak yang mempertanyakan mengapa aksi sederhana seperti itu baru dilakukan sekarang, sementara penyaluran bantuan logistik dan rehabilitasi infrastruktur masih tertunda di banyak wilayah terdampak.
Zita dan ayahnya dimaksudkan untuk menunjukkan solidaritas, namun justru dianggap sebagai upaya membangun citra di tengah kritik nasional terhadap respons pemerintah terhadap musibah hidrometeorologi yang beruntun.
Situasi ini semakin memperburuk persepsi publik terhadap pejabat tinggi yang seharusnya memimpin upaya pemulihan daripada tampil di depan kamera untuk membersihkan lumpur di satu rumah saja.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

