![]()
Repelita Jakarta - Tragedi banjir bandang dan longsor yang menewaskan ratusan orang serta menggusur puluhan ribu warga di Sumatera Utara pada akhir November 2025 kembali membuka luka lama soal pengelolaan hutan nasional.
Isu deforestasi masif yang selama ini menjadi biang keladi bencana hidrometeorologi kini kembali mengemuka dengan keras, memicu gelombang kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah di masa lalu.
Di tengah duka yang masih menyelimuti korban, sebuah cuplikan wawancara berusia lebih dari satu dekade dari serial dokumenter Years of Living Dangerously mendadak menjadi bahan perbincangan utama di seluruh platform digital.
Rekaman tersebut menampilkan aktor Hollywood sekaligus aktivis lingkungan Harrison Ford yang melakukan kunjungan investigasi ke Indonesia pada 2013 untuk mengungkap praktik penebangan hutan yang tidak terkendali.
Dalam salah satu segmen yang paling banyak dibagikan kembali, Ford dengan ekspresi serius mempertanyakan pejabat tinggi pemerintah tentang hilangnya lebih dari 80 persen tutupan hutan dalam waktu singkat serta keterlibatan korporasi besar yang diduga dilindungi oleh oknum penguasa.
Nada bicara Ford semakin tegas ketika ia menyinggung kerusakan Taman Nasional Tesso Nilo yang seharusnya menjadi kawasan konservasi, namun kenyataannya telah berubah menjadi ladang sawit dan penebangan ilegal.
Pernyataan Ford yang paling banyak dikutip netizen hingga kini adalah peringatan kerasnya bahwa It's not funny ketika lawan bicaranya justru menanggapi isu krisis ekologi dengan senyum dan tawa ringan.
Kalimat singkat itu kini menjadi simbol kemarahan publik, yang menilai sikap meremehkan terhadap ancaman kerusakan lingkungan di masa lalu telah berbuah petaka besar pada hari ini.
Video yang sama juga memperlihatkan Ford secara gamblang mengkritik pola hubungan antara pejabat tinggi dengan perusahaan penebang, yang menurutnya menjadi penghambat utama upaya penyelamatan hutan tropis Indonesia.
Peringatan Ford bahwa kerusakan hutan akan memicu bencana berulang seperti banjir dan longsor kini terbukti terjadi hampir satu dekade kemudian di berbagai wilayah Sumatera.
Kebangkitan cuplikan ini tidak hanya menjadi pengingat atas prediksi yang terbukti benar, tetapi juga memicu tuntutan publik agar para pengambil kebijakan yang terlibat pada masa itu memberikan pertanggungjawaban moral.
Banyak pengguna media sosial yang mengaitkan langsung tragedi terkini dengan kegagalan sistematis dalam melindungi hutan sebagai benteng alami terhadap bencana alam.
Peringatan Harrison Ford yang sempat dianggap berlebihan pada masanya, kini dianggap sebagai ramalan yang terbukti akurat oleh mayoritas masyarakat yang masih berduka atas korban jiwa dan kerugian materiil yang tak terhitung.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

