
Repelita Jakarta - Kunjungan akademisi Stanford University Peter Berkowitz ke Indonesia pada Agustus 2025 memicu gelombang kontroversi yang berujung pada keputusan internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Kehadiran Berkowitz yang dikenal memiliki pandangan pro-Zionis itu tidak hanya memanaskan diskusi publik tapi juga berdampak langsung pada posisi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Dalam rapat harian Syuriyah PBNU yang digelar pada 20 November 2025, para kiai memutuskan Gus Yahya harus menyatakan pengunduran diri dari jabatan ketua umum dalam batas waktu maksimal tiga hari setelah menerima risalah resmi.
Peter Berkowitz merupakan Tad and Dianne Senior Fellow di Hoover Institution Stanford University, lembaga riset terkemuka yang fokus pada kebijakan publik, ekonomi, kebebasan individu, serta keamanan global.
Di sana ia banyak meneliti isu kewarganegaraan, sejarah militer modern, dan membimbing generasi muda Amerika melalui program The Public Interest Fellowship yang menekankan demokrasi konstitusional serta kepemimpinan.
Latar belakang pendidikan Berkowitz dimulai dari gelar sarjana sastra Inggris di Swarthmore College, magister filsafat di Hebrew University of Jerusalem Israel, hingga doktor hukum dan PhD ilmu politik dari Yale University.
Bidang keahliannya meliputi pemerintahan konstitusional, pemikiran konservatif, politik Timur Tengah, keamanan nasional, serta pendidikan liberal.
Selain aktif mengajar dan meneliti, Berkowitz rutin menulis kolom di RealClearPolitics membahas topik sensitif seperti konflik Israel-Hamas serta posisi akademisi konservatif di kampus-kampus Amerika.
Beberapa karyanya yang terkenal mencakup Explaining Israel: The Jewish State, the Middle East, and America serta Israel and the Struggle over the International Laws of War yang mengukuhkan imagenya sebagai ahli Zionisme dan hukum perang internasional.
Pada era pemerintahan Donald Trump pertama, Berkowitz menjabat Direktur Perencanaan Kebijakan Departemen Luar Negeri AS serta penasihat senior menteri luar negeri, membuatnya berperan besar dalam formulasi kebijakan Timur Tengah.
Editor: 91224 R-ID Elok

