
Repelita Jakarta - Risalah rapat rutin Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang memuat rekomendasi pengunduran diri Yahya Cholil Staquf dari kursi Ketua Umum memicu dugaan kuat adanya masalah serius pengelolaan dana di internal organisasi terbesar umat Islam itu.
Pengamat politik dari Universitas Islam Syekh Yusuf Adib Miftahul menilai catatan Syuriyah yang menyebut pelanggaran tata kelola keuangan bertentangan dengan hukum syariah, undang-undang negara, serta anggaran dasar rumah tangga NU sebagai sinyal bahwa aliran dana besar di PBNU mulai tercium oleh badan pengawas.
Nah, sebagai catatan, jangan-jangan Syuriyah mulai mengetahui ada aliran dana di PBNU yang luar biasa besar, kata Adib Miftahul dalam keterangannya pada Sabtu 22 November 2025.
Menurut Adib, posisi puncak PBNU kini sangat menggiurkan karena kedekatan dengan kekuasaan, pengelolaan tambang, serta penempatan kader di jabatan strategis pemerintahan sehingga mirip partai politik.
Tadi saya katakan, salah satu kenapa PBNU sekarang menurut saya hampir mirip partai politik, masuk dalam hal kekuasaan, karena memang sangat-sangat menggiurkan begitu kita bisa memimpin tampuk kekuasaan di PBNU, ungkapnya.
Adib menyoroti kasus dugaan korupsi kuota haji yang menyeret adik kandung Yahya Cholil Staquf, yaitu Yaqut Cholil Qoumas, sebagai faktor yang semakin melemahkan posisi ketua umum saat ini.
Yang tidak beruntung adalah kebetulan Yakut itu terseret kasus Kuota Haji, tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi sudah lama mengincar perkara tersebut meski hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Tetapi saya kira bahwa KPK sudah membidik ini sejak lama, tetapi kan masih belum berjalan dan kasus ini tidak jelas, tandas Adib Miftahul.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

