Repelita Jakarta - Penulis sekaligus influencer Abigail Limuria mengkritik keras keberadaan buzzer di ruang digital Indonesia yang menurutnya telah menghancurkan peluang terciptanya diskusi bermutu dan memecah belah masyarakat.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sesi podcast To The Point Aja yang disiarkan melalui kanal YouTube Sindonews dan dikutip pada Sabtu 22 November 2025.
Menurut Abigail, kehadiran buzzer telah menciptakan suasana penuh kecurigaan sehingga opini yang tulus dan beralasan pun langsung dicap sebagai pesanan politik.
Akibatnya, siapa pun yang berani berbeda dengan arus utama atau justru mendukung kebijakan pemerintah dengan argumen logis sekalipun langsung dilabeli buzzer.
Situasi ini, kata Abigail, membuat dialog sehat menjadi mustahil karena orang sudah terlalu cepat menuduh tanpa mau mendengarkan substansi.
Contohnya, ketika ada yang mengatakan program Presiden Prabowo Subianto bisa berhasil jika dijalankan dengan benar, respons yang muncul justru Oh, udah deh diam aja buzzer 02.
Hal serupa terjadi ketika seseorang mengkritik program Makan Bergizi Gratis dengan alasan valid, langsung dituduh sebagai Anak Abah.
Padahal, lanjut Abigail, perbedaan pandangan tersebut seharusnya bisa menjadi bahan diskusi produktif untuk menemukan akar masalah dan solusi bersama.
Namun karena tingkat kecurigaan sudah terlalu tinggi, potensi pertukaran ide yang konstruktif langsung mati sebelum berkembang.
Abigail menegaskan bahwa buzzer menjadi salah satu faktor paling mengganggu dalam ekosistem media sosial Indonesia saat ini karena telah meracuni iklim komunikasi publik.
Keadaan ini membuat orang tidak lagi berani menyampaikan pendapat jujur tanpa takut langsung dihakimi sebagai bagian dari kelompok bayaran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

