Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Respons Tayangan Viral Santri Ngesot dan Kiai Terima Amplop, Menag Nasaruddin Minta Media Tidak Mengusik Pesantren

 Viral Karena Bandingkan Guru dan Pedagang, Menag Nasaruddin Minta Maaf,  Tegaskan Pemerintah Terus Sejahterakan Pendidik

Repelita Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan keprihatinan atas tayangan program televisi yang menampilkan video santri ngesot dan kiai menerima amplop di salah satu stasiun televisi nasional.

Dalam pernyataannya di Bandara Halim Perdanakusuma pada pagi hari tanggal 15 Oktober 2025, Nasaruddin menilai tayangan tersebut tidak pantas dan cenderung merendahkan lembaga pesantren. Ia meminta media untuk tidak mengusik kehidupan pesantren, terlebih dengan narasi yang negatif dan tendensius.

Menurut Nasaruddin, pesantren merupakan institusi pendidikan yang telah lama menanamkan nilai adab kepada para santri. Ia menyayangkan adanya tayangan yang menggambarkan aktivitas pesantren secara tidak proporsional, padahal pesantren telah berjasa besar dalam membentuk masyarakat Indonesia yang santun dan beradab.

Ia mempertanyakan mengapa media justru mengusik pihak yang mengajarkan adab, sementara kelompok yang tidak beradab tidak mendapat sorotan. Nasaruddin menegaskan bahwa pesantren telah membudayakan penghormatan antara murid dan guru, serta antara santri dan kiai, sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat tampilan luar dari aktivitas pesantren, tetapi memahami energi spiritual yang ditanamkan melalui pendidikan pesantren. Menurutnya, dari pembiasaan adab di pesantren, santri belajar bagaimana bersikap terhadap orang tua, pemimpin, dan sesama warga negara.

Nasaruddin menyebut bahwa keberadaan rakyat yang santun biasanya beriringan dengan hadirnya pemimpin yang berwibawa. Ia menilai suasana kebatinan seperti itu telah diperkenalkan pesantren selama berabad-abad dan menjadi fondasi keberadaban bangsa Indonesia.

Ia menegaskan bahwa masyarakat seharusnya berterima kasih kepada pesantren atas kontribusinya dalam membentuk karakter bangsa. Nasaruddin menyebut bahwa selama tiga abad pesantren telah konsisten menciptakan masyarakat yang santun dan beradab.

Ia meminta semua pihak untuk memberikan tempat yang terhormat kepada para kiai dan pesantren sebagai guru peradaban bangsa. Nasaruddin berharap tayangan seperti yang ditampilkan oleh Trans7 tidak terulang kembali dan menjadi pelajaran bagi media dalam menyajikan konten yang berkualitas.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf juga menyampaikan protes keras terhadap tayangan program "Expose Uncensored" yang ditayangkan pada Senin, 13 Oktober 2025. Ia menilai tayangan tersebut tidak hanya melanggar prinsip jurnalisme, tetapi juga menghina institusi pesantren dan tokoh-tokohnya.

Gus Yahya menyatakan bahwa isi tayangan tersebut secara terang-terangan merendahkan dunia pesantren dan menyudutkan tokoh-tokoh yang dihormati oleh warga Nahdliyin. Ia menilai bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia seharusnya dihormati, bukan dijadikan objek pelecehan.

Majelis Ulama Indonesia turut merespon melalui Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi KH Masduki Baidlowi. Dalam pernyataannya di Jakarta pada 14 Oktober 2025, Masduki meminta Komisi Penyiaran Indonesia untuk menindak tegas stasiun televisi yang menayangkan program tersebut.

Masduki menyebut bahwa tayangan tersebut menyinggung pesantren besar dan tokoh berpengaruh seperti KH Anwar Manshur dari Pondok Pesantren Lirboyo. Ia menilai tayangan tersebut tidak memenuhi prinsip jurnalistik seperti cover both side, verifikasi silang, dan profesionalisme.

Ia menegaskan bahwa MUI meminta KPI untuk menegur Trans7 sesuai dengan regulasi yang berlaku. Menurutnya, penyiaran yang tendensius seperti itu sangat berbahaya dan bisa menimbulkan reaksi emosional dari masyarakat.

Masduki menyampaikan bahwa Alumni Pondok Pesantren Lirboyo telah mengadukan persoalan ini ke MUI. Ia menilai bahwa tayangan tersebut sangat tendensius dan bisa jadi dipengaruhi oleh agenda ideologis tertentu yang berpotensi memecah belah.

MUI mendesak KPI untuk segera memanggil dan menegur pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tayangan tersebut. Masduki menekankan bahwa kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak keharmonisan dan tradisi pesantren yang telah lama menjadi bagian penting dari peradaban bangsa.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved