
Repelita Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sikapnya yang enggan menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pernyataan tersebut kembali disampaikan saat inspeksi mendadak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin, 13 Oktober 2025.
Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan Whoosh sudah berada di bawah Danantara, yang sebelumnya telah menerima lebih dari Rp80 triliun dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ia menyebut bahwa seharusnya Danantara mampu mengelola pembiayaan proyek tersebut dari dana dividen yang telah diterima.
Menurutnya, penggunaan APBN untuk menanggung utang proyek tersebut tidak tepat karena keuntungan dinikmati oleh Danantara, sementara beban keuangan ditanggung oleh negara.
Purbaya menyampaikan bahwa jika dividen BUMN sudah diambil, maka tanggung jawab atas beban utang juga seharusnya diambil sepenuhnya oleh pihak yang menerima keuntungan.
Sementara itu, pihak Istana menyatakan tengah menyiapkan skema pembayaran yang tidak membebani APBN.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam pernyataannya di Kertanegara, Jakarta, pada Minggu, 12 Oktober 2025.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah mendiskusikan berbagai alternatif pembiayaan untuk mencari solusi atas beban keuangan proyek KCJB.
Prasetyo menambahkan bahwa pembahasan mengenai skema pembiayaan tersebut masih berlangsung dan belum mencapai kesimpulan akhir.
Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah pembiayaan tidak dapat dilakukan secara instan.
Proyek KCJB atau Whoosh dibangun dengan nilai investasi sebesar US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp16.186 per dolar AS.
Nilai investasi tersebut mengalami pembengkakan dari proposal awal yang diajukan oleh China pada tahun 2015 sebesar US$5,13 miliar.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tawaran dari Jepang yang mengajukan proposal senilai US$6,2 miliar.
Untuk membiayai investasi sebesar US$7,2 miliar, pemerintah meminjam dana dari China Development Bank sebesar 75 persen dari total nilai proyek.
Sisa pembiayaan berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar 60 persen dan Beijing Yawan HSR CO Ltd sebesar 40 persen.
Utang tersebut kini menjadi beban utama dalam kinerja proyek Whoosh, dengan jumlah mencapai sekitar Rp116 triliun.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

