Repelita Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membandingkan capaian pertumbuhan ekonomi antara era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Purbaya menyebut bahwa pada masa pemerintahan SBY, pertumbuhan ekonomi mampu mencapai angka 6% meskipun pembangunan infrastruktur tidak seagresif era Jokowi.
Sementara itu, pada era Jokowi, pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di kisaran 5% meski pembangunan dilakukan secara masif.
Menurut Purbaya, sektor privat tumbuh lebih baik pada masa SBY sehingga mendorong laju ekonomi secara signifikan.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara bertajuk “1 tahun Prabowo-Gibran: Optimism 8% Economic Growth” di Jakarta, Kamis, 16 Oktober 2025.
Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya sempat menyampaikan perbandingan tersebut langsung kepada Presiden Jokowi.
“Saya kasih tahu ke Pak Jokowi waktu itu, kenapa Pak SBY tidur saja pertumbuhan 6%? Tapi Bapak bangun infrastruktur di mana-mana, pertumbuhan cuma 5%,” ujar Purbaya.
Ia menilai bahwa selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan tidak seimbang karena sektor privat terhambat sementara sektor pemerintahan tetap aktif.
Sebagai Menteri Keuangan saat ini, Purbaya berkomitmen untuk menggerakkan kedua sektor tersebut secara bersamaan demi mencapai target pertumbuhan ekonomi di level 6%.
Penjelasan dari sejumlah ekonom menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi pada era Jokowi tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melanda sejak tahun 2020.
Pada masa itu, Produk Domestik Bruto (PDB) sempat turun drastis hingga 2,1% dan baru kembali tumbuh 3,69% pada tahun berikutnya.
Jokowi dinilai berhasil membalikkan keadaan melalui program pengendalian pandemi dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang mencakup pembiayaan kesehatan serta bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sementara itu, pada era SBY, Indonesia juga menghadapi krisis keuangan global tahun 2008.
Namun dampaknya tidak terlalu besar, dan pertumbuhan ekonomi masih bertahan di atas 4% pada tahun 2009.
Ekonom INDEF Tauhid Ahmad menyebut bahwa perlambatan ekonomi di era Jokowi juga dipengaruhi oleh proses de-industrialisasi yang semakin cepat.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian terus menurun dibandingkan masa pemerintahan SBY.
Tauhid menyoroti dampak dari berbagai perjanjian dagang yang menyebabkan bea impor menjadi nol persen sehingga industri dalam negeri kesulitan bersaing.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal turut menyampaikan bahwa kontribusi sektor manufaktur di era Jokowi semakin menyusut.
Padahal sektor tersebut dinilai sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Faisal menambahkan bahwa pertumbuhan kuat di sektor manufaktur menjadi kunci keberhasilan negara-negara maju di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.
Ia menyebut bahwa pada penghujung masa jabatan Presiden Jokowi, pemerintah mulai mendorong hilirisasi sebagai upaya untuk memperkuat sektor manufaktur. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

