
Repelita Jakarta - Pegiat media sosial, Lukman Simanjuntak, mengungkap dugaan tekanan yang dilakukan oleh Luhut Binsar Pandjaitan terhadap TNI Angkatan Udara dalam proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Lukman menyoroti pernyataan mantan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal (Purn) Agus Supriatna, yang menyebut Luhut pernah meminta TNI AU untuk merelakan aset negara di Halim Perdanakusuma demi kepentingan proyek KCIC.
Menurut Lukman, pengakuan tersebut menunjukkan adanya intervensi kuat dari Luhut dalam pengambilan keputusan strategis yang seharusnya melibatkan koordinasi antarlembaga.
“ Mantan KSAU mengungkapkan peran Luhut menekan TNI AU agar merelakan aset AU di Halim untuk KCIC,” tulis Lukman melalui akun X @hipohan pada 20 Oktober 2025.
Ia juga menyinggung pernyataan terbaru Luhut yang menyebut dirinya menerima proyek KCIC dalam kondisi yang sudah bermasalah.
Lukman menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk upaya Luhut untuk melepaskan tanggung jawab atas berbagai persoalan yang kini membelit proyek tersebut.
“Jadi pengakuan Luhut menerima KCIC dalam keadaan barang busuk, itu jujur atau upaya cuci tangan?,” tandasnya.
Sebelumnya, Luhut menyatakan bahwa tidak pernah ada permintaan agar dana APBN digunakan untuk menutup kewajiban proyek KCIC.
“Whoosh itu masalahnya apa sih, itu kan tinggal restructuring aja. Siapa yang minta APBN, tak ada yang pernah minta APBN,” ujar Luhut dalam pernyataan di Jakarta, dikutip pada Jumat, 17 Oktober 2025.
Ia menjelaskan bahwa dirinya terlibat langsung sejak awal dalam proyek tersebut dan telah melakukan koordinasi dengan pihak Tiongkok.
“Saya udah bicara dengan Cina, karena saya yang dari awal mengerjakan itu. Karena saya terima sudah busuk gitu barang, kemudian kita coba perbaikin, kita audit BPKP,” ucapnya.
Luhut menyebut bahwa pihak Tiongkok bersedia melakukan restrukturisasi pembiayaan, namun prosesnya sempat tertunda akibat pergantian pemerintahan.
“Kemudian kita berunding dengan Cina, dan Cina mau untuk melakukan. Tapi kemarin pergantian pemerintah agak terlambat,” kata Luhut.
“Sehingga sekarang perlu ditunggu kepres supaya timnya segera berunding. Dan sementara Cinanya sudah bersedia kok, gak ada masalah,” tambahnya.
Luhut juga menyindir pihak-pihak yang menurutnya memberikan komentar tanpa memahami data secara menyeluruh.
“Whoosh akan diganti dengan South China, apa lagi ini? Saran saya, kalau kita gak ngerti datanya gak usah komentar dulu,” ujarnya.
“Nanti cari datanya baru berkomentar, baru enak. Karena kalau tidak, atau mungkin cari populeritas murahan, ya silakan lah,” tutup Luhut dengan nada tegas.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

