Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Henry Subiakto Soroti Ironi Politik: Kuliah Serius Malah Tersingkir, Asal-asalan Justru Naik Panggung dan Jadi Pimpinan

 Prof Henri Subiakto Ungkap Kelemahan RI dalam Menghadapi Judi Online dan  Kapitalisme Digital - Bisnis Bandung

Repelita Surabaya - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Prof Henri Subiakto, menyoroti fenomena politik di Indonesia yang menurutnya sarat dengan ironi dan ketimpangan nilai dalam penempatan figur publik.

Dalam unggahan di akun X pribadinya pada Senin, 20 Oktober 2025, Henri menyatakan bahwa mereka yang menempuh pendidikan tinggi justru kerap tersingkir, sementara yang asal-asalan mendapat posisi strategis.

“Ironi politik negeri ini, yang kuliah beneran jadi tahanan, yang asal-asalan jadi pimpinan,” tulis Henri dalam cuitannya.

Ia mencontohkan sosok Nadiem Makarim, seorang pengusaha muda lulusan Harvard University yang sukses membangun perusahaan rintisan berstatus unicorn.

Henri menyebut bahwa Nadiem memiliki latar pendidikan yang sangat baik dan kekayaan luar biasa, namun reputasinya merosot setelah masuk ke dunia politik.

Menurut Henri, penunjukan Nadiem sebagai menteri di luar bidang kompetensinya justru membawa kehancuran, bukan kehormatan.

“Belakangan hancur namanya. Itu karena dia ditarik ke politik. Dijadikan menteri di luar kompetensinya. Maka yang didapat bukan kemuliaan. Bukan pula kekayaan. Melainkan kehancuran dan kehinaan,” tulis Henri.

Ia menambahkan bahwa reputasi dan harta kekayaan Nadiem serta keluarganya ikut menurun akibat keterlibatan dalam politik.

Henri kemudian membandingkan dengan figur anak muda lain yang menurutnya tidak jelas latar pendidikan dan gagal dalam bisnis, namun justru mengalami lonjakan kekayaan.

“Di sisi lain, ada juga anak muda yang asal asalan tidak jelas sekolahnya. Gagal usaha bisnisnya. Tapi hartanya bisa melejit berlipat ganda,” imbuhnya.

Henri menyebut bahwa anak muda tersebut awalnya mengaku tidak tertarik pada politik, namun akhirnya terjun juga mengikuti jejak orang tuanya.

“Walau di awal dikatakan oleh bapaknya ia tak tertarik politik, ternyata belakangan berpolitik dengan cara mengikuti karakter orang tuanya,” beber Henri.

Ia menyoroti bahwa meskipun latar pendidikan dan bisnisnya tidak jelas, jenjang karir dan jabatan anak muda itu justru terlihat sangat terarah dan terencana.

“Semua seperti sudah diatur dan diskenario harus sukses. Dibuat dia harus nampak terhormat. Sekaligus harus nampak kelihatan dipuja puja. Di mana mana seantero Indonesia,” jelas Henri.

Henri menilai bahwa anak muda tersebut seolah lebih layak dijadikan panutan dibandingkan mereka yang benar-benar menempuh pendidikan tinggi.

“Seolah dia lebih benar, lebih hebat dan lebih layak dijadikan suri tauladan dari pada yang sekolah beneran,” sambungnya.

Ia menyebut bahwa fenomena ini mencerminkan ironi politik yang memperlihatkan potret anak muda di panggung kekuasaan Indonesia.

Henri mempertanyakan nilai yang harus diajarkan kepada generasi muda di tengah kondisi tersebut.

“Terus apa yg harus kami ajarkan dan tunjukkan pada generasi muda sekarang? Haruskah mereka mencontoh yang sekolah tinggi hingga sukses tapi berakhir tragis,” ucapnya.

“Atau meneladani yang gak perlu sekolah serius, asal orang tuanya berkuasa dan mampu mengatur regulasi dan legitimasi, atas nama formalitas demokrasi, nyatanya bisa sukses. Bahkan selangkah lagi akan berkuasa di negeri ini,” sambung Henri.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia mengalami kesulitan dalam menemukan figur panutan yang layak diteladani.

“Indonesia sekarang benar benar kesulitan mencari figur panutan, atau teladan. Dulu jaman saya sekolah, anak muda punya idola. Ingin sekolah setinggi tingginya, mengikuti jejak seperti Prof. Dr Ir. BJ. Habibie,” terangnya.

Henri menyebut bahwa kini muncul persepsi bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan, bahkan bisa berujung pada kehancuran.

“Mereka yang kuliah tinggi di kampus terkenalpun tidak terjamin sukses, malah tak sedikit yang hancur karena kasus korupsi,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa mereka yang sekolah asal-asalan justru bisa tampil mentereng meski karya dan ide yang diusung tidak jelas.

“Malah ketidakjelasan itulah yang justru jadi kelebihan politisnya hingga dia terus menerus diekspose saat bergaya ita itu sambil senyam senyum di tengah puja puji yang sebenarnya belum tentu asli,” pungkas Henri.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved