Repelita Jakarta - Ekonom Awalil Rizky mengkritik pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda akan lari kencang.
Menurut Awalil, klaim tersebut terlalu dini karena hanya didasarkan pada data satu bulan yang belum dapat diverifikasi secara menyeluruh oleh lembaga otoritatif seperti OJK dan Bank Indonesia.
Dalam kanal YouTube miliknya, Awalil menyatakan bahwa data yang digunakan untuk mendukung pernyataan tersebut bersifat bulanan dan cenderung mengalami keterlambatan publikasi.
Ia menilai bahwa lonjakan kredit yang dikaitkan dengan kebijakan penempatan dana pemerintah belum bisa dipastikan sebagai hasil langsung dari kebijakan tersebut.
Data September saja belum tersedia secara lengkap, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang valid mengenai dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Awalil juga menyoroti penggunaan indikator uang primer (M0) yang disebut tumbuh 13 persen sebagai dasar optimisme.
Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah uang beredar belum tentu mencerminkan percepatan aktivitas ekonomi riil.
Menurutnya, pertumbuhan M0 memang signifikan, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan indikator utama bahwa ekonomi sedang melaju pesat.
Ia mempertanyakan apakah lonjakan tersebut benar-benar disebabkan oleh penempatan dana sebesar Rp200 triliun, atau hanya bersifat temporer.
Lebih lanjut, Awalil mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat ditopang oleh dua faktor utama, yaitu modal dan tenaga kerja.
Ia menyoroti bahwa saat ini justru terjadi peningkatan pemutusan hubungan kerja dan pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal.
Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa fondasi produksi nasional sedang mengalami tekanan.
Jadi bagaimana ekonomi bisa lari kencang kalau faktor produksinya justru melemah, ujarnya.
Awalil memahami bahwa pemerintah ingin membangun sentimen positif di kalangan pelaku usaha dan masyarakat.
Namun ia mengingatkan agar optimisme yang dibangun tidak bersifat semu dan tidak didasarkan pada data yang belum solid.
Jika ekspektasi publik dibentuk dari informasi yang belum terverifikasi, maka risiko kekecewaan akan semakin besar.
Kalau optimisme dibangun atas data yang belum kuat, ujung-ujungnya bisa PHP. Rakyat butuh bukti, bukan sekadar janji, tutupnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

