Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Makna Graffiti "Adili Jokowi" yang marak di berbagai kota Indonesia

Coretan Adili Jokowi Muncul di Sejumlah Kota: Ekspresi Ketidakpuasan Publik  pada Sepak Terjang Jokowi - Ruang Kota - Halaman 2

Repelita Jakarta - Dalam seminggu terakhir ini, ruang publik Indonesia dihiasi dengan graffiti yang berisi seruan "Adili Jokowi". Graffiti ini telah muncul di berbagai kota besar seperti Solo, Jogja, Medan, Malang, dan Surabaya, mencerminkan tuntutan sebagian masyarakat agar aparat hukum menindak tegas mantan Presiden Jokowi atas dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan selama masa pemerintahannya.

Graffiti yang berisi kalimat sederhana ini muncul di banyak titik, mulai dari jalanan utama hingga halte dan dinding bangunan. Di Solo, graffiti ini dapat ditemukan di Jalan Profesor Dr. Soeharso, Jl. Moh Husni Thamrin, Jl. Samratulangi, dan beberapa lokasi lainnya. Di Jogja, setidaknya ada 15 titik yang dihiasi tulisan serupa, seperti di halte Trans Jogja di Jalan Sultan Agung dan Jembatan Layang Lempuyangan. Sementara itu, di Medan, graffiti ini ditemukan di sejumlah jalan utama seperti Jalan Jamin Ginting dan Jalan Ngumban Surbakti. Di Surabaya dan Malang, graffiti dengan seruan yang sama juga turut menghiasi dinding-dinding kota.

Menurut Dr. KRMT Roy Suryo, fenomena ini lebih dari sekedar aksi vandalisme. Ia menyebutnya sebagai ekspresi sah dalam demokrasi yang harus dipahami sebagai bagian dari sejarah panjang penggunaan graffiti sebagai media protes. Menurut Roy Suryo, graffiti "Adili Jokowi" adalah bentuk kritik terhadap kepemimpinan Jokowi dan bukan sekadar tindakan destruktif. Ia mengingatkan bahwa graffiti sudah ada sejak zaman prasejarah dan digunakan sebagai media ekspresi, bahkan untuk perlawanan terhadap penjajah pada masa kemerdekaan Indonesia.

"Graffiti ini bukanlah vandalisme, tapi bentuk dari kebebasan berpendapat yang harus dihormati dalam demokrasi," kata Roy Suryo. Ia juga mengingatkan bahwa graffiti serupa sudah ada sejak zaman Romawi dan Yunani Kuno, dan bahkan digunakan oleh pemuda Indonesia sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah pada masa kemerdekaan.

Meskipun demikian, beberapa pihak mengkritik graffiti ini, dengan beberapa menyebutnya sebagai tindakan vandalisme. Namun, Roy Suryo menegaskan bahwa graffiti seperti ini adalah bagian dari sejarah perjuangan politik di Indonesia yang harus dihargai sebagai ekspresi masyarakat. Ia berharap bahwa ekspresi ini tidak berhenti hanya pada graffiti, namun dapat berkembang menjadi aksi yang lebih besar untuk mendorong perubahan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved