
Kontroversi Penghinaan Gus Miftah terhadap Pedagang Es Teh Tuai Kritik, Kyai Usman Ali Dituding Mendukung Perilaku Tidak Pantas
Magelang, 7 Desember 2024 - Kasus penghinaan yang melibatkan Gus Miftah terhadap seorang pedagang es teh di sebuah acara di pondok pesantren Magelang, Jawa Tengah, memicu kemarahan publik.
Dalam video yang viral di media sosial, Gus Miftah terlihat menggunakan kata-kata kasar dengan menyebut penjual es teh sebagai "goblok" saat diminta memborong dagangannya. Peristiwa ini menarik perhatian luas karena dianggap tidak sesuai dengan etika seorang tokoh agama.
Dalam video tersebut, seorang pria berjas hitam dan berkacamata tertawa terbahak-bahak saat penghinaan itu dilontarkan. Pria yang tertawa itu belakangan diketahui adalah Kyai Haji Usman Ali Masyukri, pengasuh Pondok Pesantren API Al Huda di Magelang. Kehadirannya dalam video tersebut menuai kritik tajam dari warganet, yang menilai bahwa ia mendukung perilaku tidak pantas tersebut.
Usman Ali, yang dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Magelang, memiliki reputasi sebagai pendidik dan pemimpin agama yang dihormati. Ia lahir di Magelang pada 5 Juli 1975 dan telah lama mendirikan Pondok Pesantren API Al Huda, yang menjadi salah satu pusat pendidikan agama terkemuka di daerah tersebut. Tradisi keagamaan seperti mujahadah dan pengajian rutin menjadi ciri khas pondok pesantren yang diasuhnya.
Namun, sikapnya dalam video itu, yang menunjukkan tawa saat seorang pedagang dihina, memicu kekecewaan di kalangan masyarakat. Banyak warganet yang mempertanyakan bagaimana seorang tokoh agama bisa bersikap seperti itu. Salah satu komentar pedas datang dari akun X @tmounttmount yang menulis, "Orang yang ngerti agama mulutnya terjaga, tidak melukai perasaan orang lain, apalagi menggoblokkan orang di muka umum."
Komentar lainnya juga tidak kalah tajam, dengan akun @wementions yang menulis, "Serius pemuka agama begini?" Sementara itu, akun @chef_ikitara menambahkan, "Oh ini orangnya yang ketawa melihat orang lagi direndahkan oleh seorang pendakwah yang tidak punya akhlak."
Kontroversi ini membuka diskusi penting tentang menjaga akhlak dan rasa hormat, terutama bagi mereka yang memiliki posisi sebagai pemimpin agama. Pedagang es teh, yang sering kali dipandang rendah, memiliki peran penting dalam perekonomian lokal dan seharusnya dihormati. Menghormati pekerjaan orang lain adalah bagian dari ajaran agama yang menekankan kasih sayang dan penghargaan terhadap sesama manusia.
Meskipun Gus Miftah telah memberikan klarifikasi, hingga saat ini Usman Ali belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Publik menantikan tanggapan dari kedua tokoh ini, diharapkan dengan penjelasan dan permintaan maaf yang tulus. Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak, terutama tokoh masyarakat, untuk berhati-hati dalam bertindak dan berbicara agar tidak melukai perasaan orang lain. (*)
Editor: Elok WA R-ID

