Jakarta, 5 Desember 2024 – Desakan untuk mencopot Gus Miftah dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama semakin menguat. Kalis Mardiasih, seorang aktivis, menyampaikan bahwa pencopotan tersebut harus segera dilakukan berdasarkan lima alasan penting.
Pertama, jejak digital Gus Miftah yang sering mengolok-olok kelompok yang dianggap lemah, seperti pedagang kecil dan perempuan, dianggap sebagai hal yang tidak pantas untuk seorang pejabat setingkat Utusan Khusus Presiden. Jejak digital ini dinilai mencerminkan sikap diskriminatif yang dapat berisiko merusak kerukunan antar kelompok di Indonesia.
Kedua, Kalis menyoroti kurangnya latar belakang Gus Miftah dalam bidang resolusi konflik kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB). Miftah tidak memiliki keilmuan formal maupun pengalaman dalam menangani masalah kompleks terkait KBB, yang justru membutuhkan pendekatan yang bijaksana dan pengetahuan mendalam.
Ketiga, Miftah memiliki kecenderungan mengeluarkan pernyataan yang mendukung kriminalisasi warga sipil, seperti yang terjadi pada kasus Lina Mukherji dan Aulia Rakhman, yang semakin memperburuk situasi di masyarakat.
Keempat, Miftah dinilai sering melecehkan perempuan, dengan ujaran seksisme yang akut, yang bertentangan dengan nilai-nilai perdamaian dan keadilan yang harus ditegakkan oleh seorang pejabat pemerintah.
Kelima, terkait masalah toleransi dan perdamaian aktif, Kalis menekankan bahwa hal tersebut berlandaskan pada prinsip tidak menindas pihak yang lebih lemah. Tindakan Miftah yang sering mengolok-olok pedagang kecil dan kelompok lemah menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan nilai-nilai tersebut.
Sebagai Utusan Khusus Presiden, Miftah menerima gaji setara pejabat setingkat menteri, yang dinilai tidak sesuai dengan kinerjanya dalam menangani isu-isu kerukunan beragama dan berkeyakinan yang kompleks. Menurut Kalis, pernyataan-pernyataan kontroversial yang dikeluarkan Gus Miftah dapat memicu konflik yang merugikan masyarakat.
Saat ini, Gus Miftah telah meminta maaf kepada Sunhaji, pedagang es teh yang dihina olehnya di Magelang, namun kritik terhadapnya tetap terus berkembang.(*)
Editor: Elok WA R-ID

