Repelita Jakarta - Fenomena baru dalam protokoler kepresidenan menjadi perbincangan hangat setelah Presiden Prabowo Subianto terlihat konsisten membawa kendaraan taktis Maung buatan dalam negeri dalam setiap agenda kunjungan kerjanya.
Kegemaran sang kepala negara ini mulai terlihat saat menghadiri KTT ASEAN di Filipina baru-baru ini dan berlanjut hingga kunjungan terbarunya ke wilayah Pulau Miangas pada hari Sabtu, 9 Mei 2026.
ADVERTISEMENT
Untuk mendukung hobi tersebut, unit transportasi militer dikerahkan secara khusus guna mengangkut kendaraan kebanggaan nasional itu beserta seluruh perlengkapan pendukungnya ke berbagai lokasi tujuan kepresidenan.
Pemanfaatan armada pesawat Hercules, baik unit pengadaan baru maupun armada lama yang dikelola Kementerian Pertahanan, menjadi kunci utama di balik mobilitas kendaraan taktis tersebut menuju pulau-pulau terluar.
Penulis kenamaan Tere Liye memberikan ulasan kritis sekaligus sindiran tajam melalui akun media sosialnya pada tanggal 9 Mei 2026 terkait operasional dua pesawat dalam satu rangkaian perjalanan presiden.
Ia menyoroti penggunaan sumber daya negara untuk membawa kendaraan pribadi presiden dengan menuliskan: "Fix. Presiden punya hobi baru. Dia mulai suka bawa mobil kebanggaannya jalan-jalan: MAUNG. Kemarin saat KTT ASEAN di Filipina. Sekarang saat kunjungan terbaru ke Pulau Miangas, Sabtu 9 Mei hari ini."
Tere Liye juga menjelaskan mekanisme pengiriman kendaraan tersebut melalui jalur udara menggunakan pesawat angkut militer yang dibeli saat Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Dalam cuitannya, ia memaparkan strategi logistik tersebut dengan kalimat: "Simpel. Kan saat dia jadi Menhan, beli Hercules baru. Pun ada Hercules lama. Pesawat-pesawat inilah yang digunakan mengangkut mobil Maung dan segala keperluannya (lihat gambar)."
Kritik tersebut semakin menukik saat membahas aspek efisiensi anggaran negara karena setiap perjalanan presiden kini harus melibatkan dua penerbangan sekaligus demi memenuhi keinginan sang pemimpin.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan gaya sarkastis melalui pesan: "Baiklah. Dengan demikian, setiap Presiden mau jalan-jalan, ada dua pesawat yang terbang. Satu bawa dia bersama Teddy, dkk. Satu lagi bawa Maung. Kuereeennn poool!"
Tere Liye menutup opininya dengan mempertanyakan alasan presiden enggan menggunakan armada kendaraan yang sudah tersedia di daerah tujuan serta menyindir balik pihak-pihak yang kerap membela secara buta.
Penulis tersebut melontarkan sindiran terhadap para pembela kebijakan istana dengan menuliskan: "Tapi kan ada mobil di sana? Kenapa nggak pakai mobil setempat? Efisiensi?? Dasar antek aseng, tukang nyinyir, ndasmu, sana pergi ke Yaman!"(*)
Editor: 91224 R-ID Elok