Repelita Jakarta - Tokoh hukum Bambang Widjojanto bersama komedian kawakan Abdel Achrian membedah dinamika politik serta gaya komunikasi para pejabat publik di tanah air yang dinilai penuh dengan unsur kejenakaan.
Analisis mendalam tersebut disiarkan melalui sebuah tayangan dialog interaktif pada kanal YouTube NBW Media.
ADVERTISEMENT
Menurut mereka ruang publik kini kerap disuguhi oleh berbagai retorika serta manuver politik formal yang justru memicu gelak tawa dari masyarakat luas.
Sorotan utama mengarah pada fenomena gaya kepemimpinan nasional yang memunculkan kesan memiliki presiden yang gemar melontarkan lelucon dan terburu-buru mengejar klimaks humor.
"kebayang enggak sih Cing satu ketika kita punya presiden yang lucu gitu ya ah kalau lucu aja sekarang juga udah lucu oh gitu iya kalau sekarang kan kita sering terhibur dengan pidato-pidatonya itu karena Pak Prabowo punya kemampuan retorika gitu kan kalau kalau Pak Wakil Presidennya kan enggak diam terus ya iya apa yang lucu dari situ kalau kayaknya memang standar operating prosedur software-nya beda tuh iya memang harus diam dah kayaknya lebih baik diam memang lucu enggak harus pakai verbal pakai out juga bisa gitu oh gitu diamnya dia sudah lucu ya iya tapi yang kasihan kenapa sudah masih diam itu terus tiba-tiba dipersoalkan ijazahnya ya ini orang yang mempersoalkan ni orang enggak bisa diam ini," tutur Bambang Widjojanto.
Kondisi sosiopolitik nasional ini dinilai memerlukan kehadiran para seniman komedi tunggal sebagai penyeimbang guna mereduksi ketegangan psikologis warga.
Abdel Achrian memaparkan pandangannya mengenai korelasi antara sebuah peristiwa keprihatinan sosial dengan lahirnya materi humor yang sehat di atas panggung hiburan.
Ia menambahkan bahwa esensi dasar dari profesi komedian adalah menyuarakan kegelisahan publik yang nyata secara jujur.
"karena di formula komedi ya yang di eh komika atau stand up comedian e percaya itu adalah tragedi plus time baru bisa jadi komedi iya iya tragedi plus time jadi time-nya ini proses penerimaan bukan cuma sekedar buat komediannya ya ee buat orang yang dengar apakah tragedi ini sudah bisa ee diomongin dengan cara humor dengan cara bercanda ada banyak hal yang belum waktunya tapi diomongin itu akan membawa dampak lain bukan bukan ketawa yang di yang didapat gitu ee komedian harus underd mungkin maksudnya orang akan lebih mudah mentertawakan orang yang ada di bawahnya," urai Abdel Achrian.
Keterbukaan dalam menerima kritik dari kalangan masyarakat sipil diharapkan menjadi cerminan kebijaksanaan dari para pemegang otoritas kekuasaan.
Segala bentuk koreksi tata kelola kebijakan negara idealnya tidak direspon dengan sikap defensif yang berlebihan demi ketenteraman bersama.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok