Repelita Jakarta - Komika Pandji Pragiwaksono memicu diskusi panas di jagat maya setelah melontarkan kritik pedas terhadap narasi klasik yang sering digunakan untuk membungkam kritik publik terhadap pemerintah.
Melalui unggahan di platform X pada tanggal 7 Mei 2026, Pandji menilai argumen yang mempertanyakan kontribusi pengkritik bagi negara merupakan sebuah bentuk kekeliruan berpikir yang sangat mendasar.
ADVERTISEMENT
Dalam cuitannya di akun @pandji, ia menuliskan: "Siapapun yg blg “kritik mulu emg udah kontribusi apa utk negara?” tanpa sadar baru saja mengungkap kebodohannya kepada yg diajak bicara. Mendasar banget, padahal."
Pernyataan tersebut segera disambut dengan beragam analogi dari para pengguna media sosial yang mencoba memperjelas posisi warga negara sebagai pemberi mandat sekaligus pembayar gaji para penyelenggara negara.
Akun La Gata Naranja @la_gata_naranja pada 7 Mei 2026 memberikan gambaran mengenai hubungan transaksional antara rakyat dan penguasa dengan mencuitkan: "Dan yg dikritik pun bukan negaranya, tp para penyelenggara negara. Beda. Negara ini ibarat rumah, penyelenggara negara itu ibarat pengurus rumah, dan warga adlh penghuni rumah yg ngebayar para pengurus rumah ini. Jd wajar donk kl kita kritik pengurus rumah yg kerjanya asal."
Diskusi ini berkembang pada rincian beban finansial yang dipikul warga negara sebagai bentuk kontribusi nyata melalui berbagai jenis pungutan pajak yang diterapkan oleh pemerintah dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar panjang kewajiban finansial rakyat tersebut dipaparkan secara gamblang oleh akun Ardianto Satriawan @ardisatriawan yang diunggah ulang oleh akun Lucky @loveisbestt pada tanggal 7 Mei 2026.
Ia merinci belasan jenis pajak yang harus dibayar masyarakat mulai dari penghasilan hingga konsumsi harian: "1) Gaji tiap bulan dipotong pajak, 2) THR juga kena pajak, 3) Dapet bonus kena pajak juga, 4) Beli barang mahal kena pajak barang mewah, 5) Rumah kena pajak bumi dan bangunan, 6) Motor harus bayar pajak tiap tahun, 7) Mobil juga bayar pajak tiap tahun, 8) Belanja di supermarket tiap itemnya kena pajak, 9) Makan di restoran kena pajak, 10) Beli barang di luar negeri juga bayar bea cukai, 11) Bunga tabungan kena pajak juga dari negara, 12) Apply kerjaan pakai meterai, bayar ke negara, 13) Resign kerjaan juga bikin surat pernyataan pakai meterai, 14) Ditilang juga bayarnya ke negara, 15) Bikin SKCK juga bayar ke aparat negara."
Ardianto menutup rincian tersebut dengan kalimat sarkastis untuk membalas pertanyaan mengenai sumbangsih rakyat kepada negara: ""Emang udah kontribusi apa untuk negara""
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan pandangan Pandji, di mana beberapa netizen justru menuntut adanya solusi konkret dari para figur publik dibandingkan sekadar melontarkan kritik tanpa saran perbaikan.
Akun SALDI ARIANSAH @saldiariansah pada 7 Mei 2026 memberikan tantangan balik kepada sang komika mengenai efektivitas kritik tersebut dengan menuliskan: "Gini aja ji, kalo program yang dirasain sama rakyat langsung elu kritik, lalu yang bener itu bagaimana? Jangan cuman bilang lu bayar pajak bukan cuman lu doang semuanya juga bayar"
Polemik ini mencerminkan tingginya tensi perdebatan mengenai hak berpendapat warga negara yang sering kali dibenturkan dengan narasi kewajiban serta nasionalisme sempit di tengah dinamika politik nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Siapapun yg blg “kritik mulu emg udah kontribusi apa utk negara?” tanpa sadar baru saja mengungkap kebodohannya kepada yg diajak bicara.
— Pandji Pragiwaksono (@pandji) May 6, 2026
Mendasar banget, padahal.
1) Gaji tiap bulan dipotong pajak,
— Ardianto Satriawan (@ardisatriawan) May 7, 2026
2) THR juga kena pajak,
3) Dapet bonus kena pajak juga,
4) Beli barang mahal kena pajak barang mewah,
5) Rumah kena pajak bumi dan bangunan,
6) Motor harus bayar pajak tiap tahun,
7) Mobil juga bayar pajak tiap tahun,
8) Belanja di supermarket… https://t.co/iraADZs2Q5