Repelita Ternate - Rentetan pembungkaman terhadap karya sinematik dokumenter bertajuk Pesta Babi kian meluas setelah aksi pembubaran paksa oleh aparat keamanan dilaporkan terjadi di wilayah Ternate menyusul insiden serupa di lingkungan akademisi Universitas Mataram.
Karya visual yang mengupas realitas pahit masyarakat adat di Papua Selatan tersebut kini menghadapi sensor lapangan yang ketat dari otoritas, memicu polemik mengenai kebebasan berpendapat yang dianggap semakin tergerus oleh kepentingan kekuasaan.
ADVERTISEMENT
Kabar mengenai tindakan represif tersebut mencuat melalui unggahan akun X MurtadhaOne1 pada 9 Mei 2026 yang mengkritisi keterlibatan institusi militer dalam urusan kebudayaan dengan mencuitkan: "Setelah nobar film Pesta Babi di Unram (Lombok) dibubarkan warek, sekarang Ternate dibubarkan tentara Mengapa pemerintah takut dengan film? Unram Ternate."
Penayangan film ini sejatinya merupakan upaya untuk memberikan edukasi publik mengenai dampak masif dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai mengancam ruang hidup warga asli melalui ekspansi lahan industri skala besar di timur Indonesia.
Pemilik akun yang sama juga memberikan penjelasan mendalam mengenai esensi dari film tersebut pada 9 Mei 2026 dengan menuliskan: "Film pesta babi adalah film dokumenter investigatif yg mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi tekanan akibat ekspansi proyek strategis nasional (PSN), termasuk pembukaan lahan pangan dan industri bioenergi."
Situasi di lokasi pembubaran dilaporkan sempat memanas saat petugas meminta seluruh peralatan penayangan segera dihentikan, menciptakan suasana yang oleh para netizen dianggap sebagai bentuk kemunduran demokrasi yang cukup mengkhawatirkan.
Komentar bernada getir turut disampaikan oleh akun Soe @liriksoe pada hari yang sama yang membandingkan kondisi saat ini dengan era kelam masa lalu melalui cuitannya: "Suasananya mirip 1995-1996."
Langkah pembubaran yang dilakukan tanpa alasan hukum yang jelas tersebut kini menjadi preseden buruk bagi diskursus intelektual di ruang publik, di mana kritik terhadap proyek pembangunan nasional justru dibalas dengan pendekatan kekuatan fisik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara diskusi di Ternate masih mengonsolidasikan diri guna menuntut klarifikasi resmi dari pihak berwenang atas dasar penghentian kegiatan nonton bareng yang bersifat damai tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Setelah nobar film Pesta Babi di Unram (Lombok) dibubarkan warek, sekarang Ternate dibubarkan tentara
— ꦩꦸꦂꦠꦝ (@MurtadhaOne1) May 9, 2026
Mengapa pemerintah takut dengan film?
Unram Ternate pic.twitter.com/QrhgoTBqsi