Berita, Nasional

[VIRAL] Balqis Humaira Semprot Aparat Sebut Mental Setipis Kertas Usai Bubarkan Diskusi Film Pesta Babi di Kampus

Repelita.net

09 May 2026 23:57 WIB • 1,231 view

[VIRAL] Balqis Humaira Semprot Aparat Sebut Mental Setipis Kertas Usai Bubarkan Diskusi Film Pesta Babi di Kampus
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gelombang kemarahan publik di platform media sosial mencuat tajam setelah aktivis kemanusiaan Balqis Humaira melayangkan kritik keras terhadap tindakan represif aparat dalam membubarkan diskusi film dokumenter Pesta Babi.

Balqis Humaira secara terbuka mempertanyakan integritas institusi keamanan yang dianggapnya terlalu reaktif dan anti-kritik terhadap fakta lapangan yang disajikan dalam karya jurnalistik audio-visual hasil kolaborasi Watchdoc dan Greenpeace tersebut.

ADVERTISEMENT

Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada 9 Mei 2026, Balqis Humaira menyindir mentalitas otoritas keamanan dengan mencuitkan: "Tersinggung? Institusi bersenjata dengan anggaran triliunan rupiah, pegang kendali keamanan negara, tapi mentalnya setipis kertas fotokopian cuma gara-gara sebuah film dokumenter? Ini bukan cuma lucu, ini ironi yang menjijikkan."

Aktivis ini menilai bahwa pembubaran paksa nonton bareng di berbagai daerah merupakan bentuk kepanikan penguasa karena film tersebut dianggap berhasil menelanjangi keterlibatan aparat sebagai penjaga kepentingan korporasi besar di tanah Papua.

Balqis Humaira menyoroti pergeseran fungsi alat negara yang seharusnya melindungi rakyat namun diduga beralih fungsi menjadi pengawal investasi dengan menuliskan: "Laras panjang dan seragam loreng itu lebih sering berfungsi jadi satpam berbayar, anjing penjaga buat korporasi raksasa dan oligarki yang lagi ngeruk habis-habisan bumi Cenderawasih."

Lebih jauh, ia membongkar realitas pahit di balik proyek lumbung pangan nasional yang ditudingnya sebagai kebohongan sistematis karena justru menghancurkan ekosistem hutan hujan purba milik masyarakat adat demi kepentingan industri gula.

Balqis Humaira menggambarkan tragedi penghancuran sumber kehidupan suku-suku asli di Papua Selatan tersebut melalui pesan menohok: "Dengan ngebabat hutan itu, negara secara sadar sedang mencekik sumber kehidupan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Lu ngancurin peradaban mereka demi bikin pabrik bioetanol dan gula pasir buat orang kota dan kepentingan industri."

Menurutnya, proses penguasaan lahan di wilayah Merauke hingga Mappi penuh dengan manipulasi dan tekanan senjata yang memaksa pemilik tanah ulayat melepaskan haknya demi menjadi buruh kasar di atas tanah rampasan korporasi.

Balqis Humaira menegaskan bahwa segala bentuk represi fisik terhadap pemutaran film ini di kampus-kampus justru merupakan pengakuan tersirat atas kesalahan pemerintah yang tidak mampu membantah data lapangan dengan argumen yang valid.

Ia mengutuk keras tindakan pembungkaman ekspresi tersebut dengan menyatakan: "Satu-satunya senjata orang pengecut yang ketahuan belangnya adalah dengan membungkam mulut yang bicara dan menutup paksa mata yang melihat. Represi itu sendiri adalah pengakuan bahwa mereka bersalah."

Analisis tajam Balqis Humaira juga menyasar pada judul film tersebut yang dianggapnya sebagai sindiran mematikan terhadap para elit politik Jakarta yang saat ini tengah berpesta pora di atas penderitaan rakyat Papua yang kehilangan ruang hidup.

Balqis Humaira menutup narasinya dengan peringatan keras bahwa kebusukan sistemik ini kini telah terekam secara permanen dan tidak akan bisa dihapus hanya dengan siaran pers formal maupun pidato kenegaraan yang penuh retorika kosong.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung