Berita, Internasional

Pentagon Kacau Akibat Perang Iran Pete Hegseth Dan Donald Trump Picu Keretakan Internal Militer Amerika Serikat Di Timur Tengah

Repelita.net

08 May 2026 14:13 WIB • 837 view

Pentagon Kacau Akibat Perang Iran Pete Hegseth Dan Donald Trump Picu Keretakan Internal Militer Amerika Serikat Di Timur Tengah
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Gejolak peperangan yang kian memanas antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat kini mulai memicu keretakan serius di dalam internal pemerintahan Washington sendiri yang kian mengkhawatirkan.

Berita dari media internasional menyebutkan bahwa kondisi di Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon saat ini dikabarkan tengah berada dalam situasi yang sangat kacau akibat tekanan operasional yang terus meningkat tajam.

ADVERTISEMENT

Sejumlah perwira tinggi militer mulai menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap hilangnya kekompakan internal yang selama ini menjadi pilar utama kekuatan tempur pasukan Paman Sam di berbagai kancah perselisihan global.

Ketidakstabilan ini dilaporkan semakin memburuk di bawah kendali Menteri Pertahanan Pete Hegseth, di mana gelombang pencopotan jabatan serta tekanan politik yang kuat membuat suasana kerja di kementerian menjadi tidak kondusif sama sekali.

Gaya kepemimpinan yang diterapkan saat ini dipandang oleh beberapa pejabat senior sebagai ancaman yang dapat melemahkan efektivitas koordinasi militer Amerika Serikat di tengah situasi darurat nasional yang sedang melanda kawasan.

Kondisi yang mengkhawatirkan ini muncul berbarengan dengan konfrontasi terbuka yang terjadi di wilayah perairan Selat Hormuz serta Laut Arab yang melibatkan armada tempur serta kapal logistik dari kedua negara tersebut.

Pihak Teheran menuduh Washington telah melanggar kesepakatan penghentian baku tembak dengan melakukan serangan terhadap kapal pengangkut energi serta wilayah pemukiman penduduk di sekitar jalur laut strategis yang menjadi urat nadi dunia.

Sebagai bentuk aksi balasan, militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap kapal perang milik Amerika Serikat yang beroperasi di bagian timur Selat Hormuz serta wilayah selatan pelabuhan penting di Chabahar.

Meskipun pasukan Amerika diinstruksikan untuk berada dalam level kesiagaan tertinggi, namun keraguan dari dalam mengenai arah kebijakan militer di bawah administrasi Donald Trump justru dilaporkan semakin menguat di kalangan elite.

Para pejabat pertahanan merasa cemas bahwa keputusan strategis yang diambil saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh retorika peperangan serta kepentingan politik sesaat daripada pertimbangan matang dari para jenderal di lapangan.

Selain menghadapi tantangan langsung dari Iran, Washington juga harus menanggung beban tambahan akibat meluasnya konflik di Lebanon selatan yang melibatkan kelompok Hizbullah terhadap posisi keamanan negara sekutu mereka yakni Israel.

Tekanan yang datang dari berbagai front pertempuran ini memaksa Pentagon untuk membagi fokus pertahanan mereka secara bersamaan, yang berisiko besar mengganggu efisiensi rantai komando militer secara keseluruhan bagi stabilitas negara.

Di sisi lain, Iran terus mempertegas posisinya dengan meningkatkan intensitas pengawasan maritim serta menempatkan pangkalan peluncuran rudal di sepanjang garis pantai Teluk Persia guna menghadapi segala bentuk intervensi dari militer asing.

Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang jauh lebih berbahaya karena Iran memiliki keunggulan teknologi berupa drone tempur dan rudal balistik yang mampu menjangkau target-target strategis musuh di seluruh pelosok kawasan.

Dampak dari ketegangan bersenjata ini pun telah merembet ke sektor ekonomi dunia, di mana harga minyak internasional terus bergejolak akibat ancaman gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz yang sangat vital.

Sejumlah perusahaan logistik maritim mulai menerapkan prosedur pengamanan ekstra ketat, bahkan sebagian operator kapal tanker sudah mempertimbangkan untuk mengalihkan rute pelayaran guna menghindari zona konflik bersenjata yang kian tak menentu.

Upaya negosiasi diplomatik hingga saat ini masih menemui jalan buntu setelah Teheran mengajukan syarat berat berupa penghentian blokade laut secara total serta adanya jaminan gencatan senjata yang bersifat permanen bagi kedaulatan mereka.

Hingga kini belum ada indikasi bahwa kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan, sementara stabilitas internal militer Washington menjadi faktor penentu dalam mengelola krisis yang berpotensi meluas menjadi perang global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung