Repelita Jakarta - Gelombang penolakan dari kalangan masyarakat virtual terkait adanya wacana pengajuan hak angket legislatif terus bergulir di media sosial.
Proses hukum yang mengarah pada pengusutan dokumen kelulusan pimpinan lembaga tinggi kepresidenan dinilai berpotensi mengaburkan perhatian dari kasus pidana siber yang lebih besar.
ADVERTISEMENT
Publik menganggap pengondisian narasi kepalsuan berkas sarjana sengaja digaungkan oleh loyalis dinasti terdahulu guna membelokkan fokus pengusutan kasus spionase ilegal.
Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @trial.tv pada November 2026 melalui sebuah ulasan kritis mengenai ketimpangan atensi publik.
Melalui saluran komunikasi digital itu, netizen menyayangkan meluasnya rasa iba terhadap mantan penguasa yang belakangan justru terseret dalam pusaran skandal pelacakan gawai kepresidenan.
Mereka menilai manuver pembuktian dokumen di ruang sidang tidak boleh menghapus pertanggungjawaban atas lumpuhnya sistem keamanan siber serta pelanggaran hak asasi warga.
Pendapat dari akun @trial.tv menuangkan kalimat, "Kasian banget beliau, sudah pensiun masih diganggu soal Ijazah 🥹 Padahal, Setelah pensiun SIBUK tabrak konstitusi. Setelah pensiun SIBUK nyadap 🥹 Sampe lupa kasian pada Korban KM50 yang diduga Jokowi adalah dal… 🫠".
Sorotan tajam mengenai dugaan adanya pengalihan isu berskala nasional ini langsung memancing beragam reaksi susulan dari para pengguna platform siber lainnya.
Sebagian warganet melayangkan kritik pedas terhadap kelompok pekerja seni serta figur publik yang dianggap ikut ambil bagian dalam membangun drama simpati tersebut.
Upaya memposisikan sang mantan pemimpin sebagai korban kejahatan siber dinilai bertolak belakang dengan fakta penetapan jajaran jenderal kepercayaannya sebagai tersangka utama.
Komentar tertulis dari akun @aline_thalla mengutarakan kalimat, "@riomotret loe profesional aja kalo loe ftografer ya loe motret aja GK usah loe sok menjadi malaikat kecil buat raja iblis!!!! Kalo loe simpati ya buat loe sendiri aj GK perlu loe up jgn smpe ntr kerjaan loe diboikot oleh rakyat korban terdzalimi raja iblis td yg loe sembah. Raffi ahmad aj GK sggup bendung kemarahan rakyat korban raja iblis loe. Kalo loe GK percaya biar kami buktikan.".
Sikap skeptis dari masyarakat virtual ini memperlihatkan semakin kuatnya kesadaran publik dalam mengawal jalannya proses hukum transisi pemerintahan.
Masyarakat menuntut agar tim investigasi khusus Mabes Polri tetap fokus membongkar aliran data hasil interseptor ilegal tanpa terpengaruh oleh dinamika panggung persidangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok