Repelita Roma - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, resmi menuntaskan misi diplomatik selama dua hari di Roma, Italia, pada Jumat (8/5/2026) dengan agenda utama meredam ketegangan politik serta menggalang dukungan militer Eropa.
Washington kini tengah berupaya keras melunakkan sikap Vatikan pasca ketegangan dengan Paus Leo XIV, sembari mendesak sekutu Benua Biru untuk turun tangan mengamankan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
Misi ini menjadi sangat pelik mengingat Presiden Donald Trump sebelumnya melontarkan kritik pedas kepada pemimpin Gereja Katolik tersebut serta Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, terkait perbedaan visi kebijakan luar negeri.
Kepada media massa usai melakukan pertemuan tertutup dengan Meloni, Rubio melontarkan peringatan serius mengenai ancaman dominasi Iran di wilayah perairan internasional yang menjadi jalur utama pasokan energi dunia.
Rubio melayangkan tantangan kepada komunitas internasional dengan menyatakan, “Dunia harus mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang bersedia dilakukannya jika Iran mencoba menormalisasi kendali atas jalur air internasional? Saya pikir itu tidak dapat diterima.”
Tekanan diplomatik ini merupakan respons langsung atas keengganan Italia dan negara-negara Eropa lainnya untuk terlibat dalam operasi militer Amerika Serikat guna merebut kembali kendali di Teluk Persia dari tangan Teheran.
Eskalasi di kawasan tersebut memuncak setelah agresi militer AS dan Israel pada akhir Februari lalu memicu kemarahan besar Iran hingga berujung pada penutupan total akses transportasi minyak dan gas global.
Donald Trump bahkan sempat mengancam akan menarik seluruh personel militer dari tanah Italia dan Spanyol, serta mempertanyakan urgensi keberadaan aliansi NATO jika para anggota tidak bersedia bahu-membahu dalam keadaan darurat.
Rubio memberikan sinyal adanya evaluasi besar-besaran terhadap peran militer negaranya di Eropa dengan mengklaim, “Jika salah satu alasan utama mengapa AS berada di NATO adalah kemampuan untuk menempatkan pasukan di Eropa yang dapat kami proyeksikan ke keadaan darurat lainnya, dan sekarang itu tidak lagi terjadi, setidaknya terkait sejumlah anggota NATO, itu adalah masalah. Dan, ini harus dievaluasi.”
Meskipun atmosfer politik sempat memanas, pertemuan Rubio dengan PM Meloni di Palazzo Chigi selama satu setengah jam digambarkan berlangsung sangat lugas demi menjaga integritas hubungan aliansi Barat.
Kantor kepresidenan Italia memberikan catatan mengenai jalannya diskusi tingkat tinggi tersebut dengan menyebutkan, “Itu adalah dialog yang terus terang antara sekutu yang membela kepentingan nasional mereka sendiri, tetapi keduanya mengakui nilai persatuan Barat.”
Di sisi lain, kunjungan Rubio ke Vatikan juga bertujuan untuk memulihkan hubungan setelah Trump sempat menuduh Paus Leo XIV tidak cakap dalam urusan luar negeri akibat kecaman sang Paus terhadap perang di Timur Tengah.
Rubio yang memiliki latar belakang Katolik taat mengaku bahwa perbincangannya dengan sang Paus berlangsung konstruktif, mencakup isu kebebasan beragama hingga ancaman nuklir yang mungkin timbul dari wilayah Iran.
Ia menekankan pentingnya penyamaan visi antara Washington dan otoritas spiritual tertinggi tersebut dengan menyatakan, “Penting untuk berbagi sudut pandang kita dan penjelasan serta pemahaman tentang dari mana kita berasal. Dan saya pikir itu sangat positif.”
Diplomat senior tersebut juga telah memberikan pemaparan komprehensif kepada Menteri Luar Negeri Vatikan, Pietro Parolin, mengenai bahaya yang mengancam stabilitas dunia jika ambisi militer Iran tidak segera diredam.
Terkait materi pembicaraan tersebut, Rubio menjelaskan, “Saya memberi mereka informasi terbaru tentang situasi dengan Iran, menyampaikan sudut pandang kami tentang mengapa ini penting, dan bahaya yang ditimbulkan Iran bagi dunia.”
Rangkaian kunjungan ini diakhiri dengan momen hangat di Kementerian Luar Negeri Italia, di mana Rubio menerima dokumen silsilah keluarganya yang ternyata berasal dari negeri pizza tersebut dan berjanji akan segera menguasai bahasa setempat.
Antusiasme pribadinya dalam mendalami akar budayanya ditunjukkan dengan janji penutup yang cukup berani, “Saat saya kembali nanti... dan saya akan berpidato ‘dalam bahasa Italia.’”(*)
Editor: 91224 R-ID Elok