Berita, Timur Tengah

Menlu Abbas Araghchi Sebut Kebencian Israel Terhadap Iran Merupakan Pertaruhan Bodoh yang Tidak Akan Dimaafkan

Repelita.net

14 May 2026 22:04 WIB • 727 view

Menlu Abbas Araghchi Sebut Kebencian Israel Terhadap Iran Merupakan Pertaruhan Bodoh yang Tidak Akan Dimaafkan
Foto: Istimewa

Repelita Timur Tengah - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali melontarkan pernyataan keras yang mempertajam ketegangan diplomatik antara Republik Islam dengan Israel.

Araghchi menilai niat buruk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat ini sudah terlihat jelas oleh masyarakat internasional.

ADVERTISEMENT

“Netanyahu kini secara terbuka mengungkapkan apa yang telah lama disampaikan oleh layanan keamanan Republik Islam kepada kepemimpinan kami” kata Abbas Araghchi.

Ia melanjutkan dengan nada semakin tegas bahwa kebencian terhadap Iran merupakan langkah yang sangat keliru.

“Kebencian terhadap rakyat besar Republik Islam adalah pertaruhan yang bodoh. Persekongkolan dengan Israel dalam hal ini tidak dapat dimaafkan.”

“Mereka yang berkonspirasi dengan Israel untuk menabur perpecahan akan dimintai pertanggungjawaban.”

Pernyataan itu disampaikan di tengah eskalasi konflik politik militer dan ekonomi yang melibatkan Iran Israel serta Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.

Hubungan Teheran dan Tel Aviv kini berada pada tingkat kerawanan tinggi setelah perang bayangan selama bertahun-tahun mulai mendekati konfrontasi langsung.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menolak usulan terbaru dari pihak Iran terkait penyelesaian krisis kawasan.

“Saya tidak suka surat mereka. Itu tidak pantas. Saya menolak tanggapan Republik Islam” kata Trump.

Pemerintah Iran langsung memberikan balasan yang tegas terhadap sikap Washington.

“Kami menulis usulan demi kepentingan nasional Republik Islam — bukan untuk menyenangkan Trump. Jika Trump tidak senang, itu mungkin pertanda baik.”

Republik Islam juga menolak penggunaan dolar AS untuk pembayaran transit kapal di Selat Hormuz dan mengalihkan seluruh transaksi menggunakan rial Iran.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global mengingat jalur tersebut menjadi lintasan utama sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

IRGC terus meningkatkan patroli di perairan Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai respons atas kehadiran armada Amerika Serikat yang semakin intens.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan sikap tegas bangsa Iran menghadapi segala bentuk ancaman.

“Orang Republik Islam tidak pernah tunduk pada tekanan” kata Araghchi dalam pernyataan sebelumnya.

Teheran semakin memperkuat kerja sama strategis dengan Rusia dan China untuk membangun pengaruh regional yang lebih mandiri.

“Iran sedang membangun posisi tawar baru di Asia Barat bersama Rusia dan China” tulis Escobar.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan kelompoknya siap menghadapi segala kemungkinan.

“Kami tidak akan meninggalkan medan perang, dan kami akan mengubahnya menjadi neraka hidup bagi Israel” kata Naim Qassem.

“Kami tidak akan tunduk, kami tidak akan menyerah, dan kami akan terus mempertahankan Lebanon.”

Situasi Timur Tengah saat ini memasuki fase yang sangat sensitif di mana risiko salah perhitungan dapat memicu konflik yang lebih luas dan berdampak pada stabilitas ekonomi global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung