Berita, Nasional

Kritik M Maki atas Pernyataan Ketua PBNU Terkait Promo Miras Pakai Hafalan Alquran: Itu Bukan Khilaf Melainkan Perundungan

Repelita.net

13 August 2026 15:34 WIB • 528 view

Kritik M Maki atas Pernyataan Ketua PBNU Terkait Promo Miras Pakai Hafalan Alquran: Itu Bukan Khilaf Melainkan Perundungan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam dialamatkan kepada Ketua PBNU menyusul pernyataan kontroversialnya yang menyebut kasus promosi minuman beralkohol dengan menggunakan hafalan Alquran sebagai bentuk kekhilafan semata tanpa ada niat buruk.

Tanggapan kritis yang mendalam langsung dilayangkan oleh M Maki melalui sebuah ulasan analitis guna mendefinisikan ulang peristiwa tersebut agar tidak dianggap sebagai sebuah kekeliruan spontan.

ADVERTISEMENT

M Maki menegaskan bahwa insiden kontroversial tersebut tidak bisa sekadar dimaklumi sebagai lelucon atau kekhilafan ringan, melainkan sebuah bentuk perundungan terstruktur.

Dalam analisis psikologi perilaku yang dipaparkannya, peristiwa di atas panggung tersebut memperlihatkan unsur kesengajaan yang sistematis demi mendulang sensasi serta viralitas di ruang publik.

Bantahan keras ini muncul sebagai bentuk respons atas pembelaan yang sebelumnya disampaikan oleh petinggi PBNU terhadap para pihak yang terlibat dalam polemik tersebut.

Kecaman publik semakin meluas setelah rekaman layar serta dokumentasi acara tersebut memicu gelombang kemarahan dari berbagai elemen masyarakat yang merasa simbol keagamaan telah dilecehkan.

Salah satu suara penegak hukum yang turut bereaksi keras di media sosial adalah akun dimas.lawyer

yang secara terbuka mengecam tindakan tersebut.

Pernyataan lengkap dari akun tersebut berbunyi: Ya Allah ada lagi aja Penistaan Agama oleh @clareesya dan di acara yang sama yaitu The Sounds Project, maksudnya apa kaya gini menghina Takbir dengan Pakaian anda yg sangat terbuka? Walaupun anda sudah buat klarifikasi, Proses hukum tetap berjalan ya Mba, kita nanti ketemu di Polda Metro Jaya. Saya gak akan tinggal diam sama orang yang menistakan Agama, Khususnya Agama Islam.

Gelombang protes digital ini mencerminkan betapa tingginya sensitivitas publik terhadap isu-isu penodaan agama yang terus berulang dari waktu ke waktu di tanah air.

M Maki turut menyoroti bagaimana pembelaan dari tokoh-tokoh besar justru berpotensi memberikan ruang impunitas moral atau enabler bagi pelaku untuk mengulangi tindakan serupa di masa depan.

Umat Islam yang menyaksikan insiden tersebut dinilai berada dalam posisi rentan menghadapi ketimpangan kuasa dari korporasi besar dan figur publik pengisi acara.

Polemik berkepanjangan ini menunjukkan bahwa masyarakat menuntut ketegasan moral serta proses hukum yang adil ketimbang sekadar pemakluman atas nama khilaf.

Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi komitmen penegakan etika sosial serta perlindungan terhadap kesucian simbol agama di tengah maraknya komersialisasi hiburan bebas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung