Repelita Cilegon - Otoritas kementerian perindustrian memberikan pernyataan resmi terkait penghentian operasional PT Krakatau Osaka Steel yang dipicu oleh akumulasi beragam persoalan industri yang sangat pelik.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan rasa empati yang mendalam atas situasi sulit yang kini sedang melanda salah satu perusahaan baja patungan milik negara tersebut.
ADVERTISEMENT
Perusahaan tersebut secara resmi telah menghentikan seluruh aktivitas manufakturnya pada akhir April 2026 dan direncanakan akan melikuidasi seluruh kegiatan bisnisnya pada bulan Juni mendatang.
"Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Pemerintah memahami bahwa keputusan ini memberikan dampak sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Oleh sebab itu, kami mengimbau perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak sesuai dengan peraturan perundang-undangan," ujar dia pada Kamis 7 Mei 2026.
Berdasarkan data internal manajemen keputusan krusial untuk menyudahi produksi tersebut sebenarnya telah disepakati melalui forum rapat Dewan Direksi yang diselenggarakan pada Januari awal tahun ini.
PT Krakatau Osaka Steel mengakui bahwa neraca keuangan perusahaan terus menunjukkan angka negatif sejak tahun 2022 akibat kemerosotan performa bisnis yang tidak kunjung membaik di pasar.
Faktor utama yang meruntuhkan ketahanan perusahaan adalah anjloknya tingkat serapan baja konstruksi di pasar lokal serta masifnya gempuran produk impor yang dibanderol dengan harga sangat rendah.
Negara-negara produsen baja raksasa khususnya Tiongkok memiliki dominasi kuat dalam efisiensi ongkos produksi sehingga mampu merusak harga pasar internasional termasuk di wilayah kedaulatan Indonesia.
"Kondisi ini menempatkan industri baja nasional pada posisi yang sulit. Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi," jelasnya.
Febri menambahkan bahwa keruntuhan PT Krakatau Osaka Steel merupakan dampak dari sinergi berbagai variabel eksternal dan bukan semata-mata karena adanya kendala pada manajemen internal organisasi perusahaan.
"Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kondisi kelebihan pasokan di tingkat global juga turut memengaruhi daya saing perusahaan," ungkapnya.
Dalam upaya membentengi sektor strategis ini pemerintah sebenarnya telah meluncurkan berbagai kebijakan proteksi seperti pembatasan pintu masuk barang impor hingga pemberlakuan standar SNI yang bersifat wajib.
Kemenperin juga telah memberikan insentif berupa penetapan harga gas industri yang kompetitif serta penghapusan bea masuk untuk bahan baku tertentu guna meringankan beban operasional para produsen lokal.
Namun melihat fakta tumbangnya PT Krakatau Osaka Steel pemerintah memandang perlu adanya penajaman regulasi untuk memperkuat ekosistem industri logam nasional agar tetap mampu bertahan di tengah krisis.
"Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan industri baja dalam negeri," tegas Jubir Kemenperin tersebut dengan penuh keyakinan.
Saat ini pasar baja dunia memang sedang mengalami guncangan hebat akibat surplus produksi global yang memicu praktik perdagangan tidak sehat melalui skema harga di bawah standar produksi normal.
Banyak negara di berbagai belahan dunia mulai menerapkan kebijakan proteksionisme melalui instrumen tarif tambahan guna menyelamatkan industri dalam negeri mereka dari ancaman kebangkrutan massal.
Kemenperin berkomitmen untuk memperketat pengawasan arus barang masuk serta mendorong optimalisasi penggunaan produk buatan lokal dalam setiap proyek pembangunan skala nasional yang sedang berjalan.
Pemerintah berharap langkah-langkah darurat ini dapat menjaga kestabilan ekonomi manufaktur serta meningkatkan kemandirian sektor industri nasional di tengah dinamika persaingan global yang semakin tidak menentu.
"Keberhasilan penguatan industri baja nasional memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun masyarakat. Selain itu, dinamika geopolitik global, struktur biaya produksi, serta tingkat permintaan domestik juga akan sangat memengaruhi efektivitas kebijakan yang dijalankan," pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok