Repelita [Jakarta] - Pengakuan mengejutkan dari Ketua BEM FH UBK Muhammad Abdimaludin yang mengaku menerima uang Rp20 juta dari oknum kepolisian mendapat sorotan tajam dari pengamat politik .
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai kasus ini menunjukkan bahwa kerusakan demokrasi di Indonesia justru bersumber dari perilaku para elite politik, bukan dari gerakan mahasiswa .
ADVERTISEMENT
"Artinya kan rusaknya demokrasi ini bukan karena mahasiswa demonstrasi, karena ada elit-elit politik yang menggunakan uang untuk mobilisasi massa," ujar Ray saat dihubungi pada Selasa (23/6) .
Menurut Ray, langkah para elite memberikan uang suap kepada mahasiswa dilakukan semata-mata untuk mempertahankan kepentingan oligarki mereka sendiri .
"Jadi demi mempertahankan apa? Demi mempertahankan oligarki mereka, yang oligarki itu kan hanya orang yang berkuasa," jelasnya .
Ia bahkan menolak keras anggapan yang menyebut mahasiswa berkolaborasi dengan kekuatan oligarki .
"Mana mungkin mahasiswa kolaborasi sama oligarki? Oligarki itu nggak mungkin ada kalau nggak ditopang oleh kekuasaan. Hanya orang yang berkuasa yang mungkin memiliki watak oligarkis," tegas Ray .
Sementara itu, Abdimaludin dalam forum klarifikasi di hadapan mahasiswa mengakui menerima uang tersebut dari seseorang bernama Aan yang disebut sebagai anggota kepolisian .
"Uang itu dikasih sama mereka pihak kepolisian untuk tidak turun aksi di Istana, Bang Aan namanya," ungkap Abdimaludin dalam video pengakuan yang viral di media sosial .
Meskipun dana telah diterima, aksi demonstrasi di kawasan Monas pada 15 Juni 2026 tetap berlangsung sesuai rencana .
Abdimaludin juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di hadapan para mahasiswa Universitas Bung Karnu .
"Tentu saya meminta maaf atas kejadian yang telah terjadi," ucapnya .
Dalam pengakuannya, ia mengungkapkan bahwa sebelum aksi berlangsung, dirinya sempat beberapa kali mendapat tawaran uang dari sejumlah pihak namun ia tolak .
"Sejak sebelum aksi sudah banyak yang memberi uang, tapi saya menolak," jelas Abdimaludin .
Ia juga membantah bahwa pertemuannya dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wapres merupakan bagian dari skenario politik tertentu .
"Tidak ada unsur yang menunggangi kami. Itu murni kepentingan rakyat. Itu murni hasil dari gerakan kami di Universitas Bung Karno," tegasnya . (*)
Editor: 91224 R-ID Elok