Repelita Teheran - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah berhasil menghancurkan pesawat pengintai E-3 AWACS milik Amerika Serikat dalam operasi gabungan rudal dan drone yang menargetkan sebuah pangkalan militer di Al Kharj, Arab Saudi, sebagai bagian dari serangan balasan terhadap agresi AS-Israel.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Ahad (29/3/2026), IRGC menyebut bahwa pasukannya melancarkan operasi gabungan menggunakan rudal dan drone setelah serangan sebelumnya terhadap pesawat pengisi bahan bakar di pangkalan yang sama, dengan hasil setidaknya satu pesawat E-3 AWACS berhasil dihancurkan sepenuhnya.
ADVERTISEMENT
Pesawat jenis E-3 Sentry atau AWACS yang merupakan modifikasi dari Boeing 707/320 dengan radar berputar berjangkauan lebih dari 375 kilometer itu biasanya digunakan untuk pengawasan udara serta pengendalian dan komando operasi militer secara real-time.
IRGC menambahkan bahwa pesawat yang menjadi sasaran hancur total dan pesawat lain di sekitarnya juga mengalami kerusakan signifikan selama operasi berlangsung, yang dilakukan sebagai respons terhadap tindakan agresif militer Amerika Serikat di kawasan.
Amerika Serikat dan rezim Israel sebelumnya melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei bersama beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari 2026.
Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara masif ke lokasi-lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan korban jiwa yang signifikan dan kerusakan luas pada infrastruktur nasional negara itu.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melakukan operasi retaliasi dengan menargetkan posisi-posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan regional menggunakan gelombang rudal dan drone secara berkelanjutan.
Para ahli militer menilai kehilangan pesawat E-3 dalam perang dapat menimbulkan celah besar dalam operasi udara AS karena pesawat tersebut memiliki kemampuan pemantauan aktivitas kawan, netral, maupun musuh serta fungsi komando dan kendali di area operasi.
Pakar kebijakan pertahanan Kelly Grieco menyebut kerugian ini sebagai kehilangan signifikan dalam jangka pendek karena akan menciptakan kekosongan cakupan pemantauan yang selama ini menjadi andalan Angkatan Udara AS.
Penasihat keamanan asal Inggris John Phillips menjelaskan bahwa pesawat AWACS biasanya menyediakan peringatan dini, mengarahkan pesawat tempur, serta menghubungkan data secara real-time untuk serangan, sehingga kehilangannya memaksa militer bergantung pada radar darat yang memiliki keterbatasan jangkauan.
Serangan ini mencerminkan taktik perang asimetris Iran yang berfokus melemahkan kekuatan udara AS melalui jaringan proksi, serangan drone massal, rudal dalam jumlah besar, hingga operasi siber yang terus ditingkatkan.
Iran juga dilaporkan memblokade Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas dunia, mendorong harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel sebagai dampak dari eskalasi konflik yang berkepanjangan.
Meskipun dampak dari hancurnya pesawat E-3 AWACS dinilai masih tergolong sedang dan dapat diatasi dalam beberapa minggu misalnya dengan mengerahkan pesawat E-7 Wedgetail, para analis memperingatkan bahwa kondisi ini tetap meningkatkan risiko terhadap aset pendukung militer AS di kawasan.
Ke depan para pengamat militer menilai menarik untuk melihat apakah Amerika Serikat akan beralih ke sistem berbasis kapal yang lebih sulit diserang atau memindahkan operasi ke pangkalan yang lebih jauh guna mengantisipasi serangan lanjutan dari Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok