Berita, Timur Tengah

Iran Sebut Uni Emirat Arab Terlibat Serangan Rudal Di Pulau Qeshm Usai Militer Amerika Serikat Gempur Bandar Abbas

Repelita.net

08 May 2026 16:42 WIB • 620 view

Iran Sebut Uni Emirat Arab Terlibat Serangan Rudal Di Pulau Qeshm Usai Militer Amerika Serikat Gempur Bandar Abbas
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Atmosfer keamanan di wilayah pesisir selatan Iran dilaporkan kembali mencekam menyusul terjadinya serangkaian ledakan hebat serta kontak senjata yang pecah di kawasan Pulau Qeshm serta Bandar Abbas pada Kamis malam waktu setempat.

Jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi pintu keluar utama bagi ekspor komoditas minyak dunia tersebut mendadak berubah menjadi zona tempur setelah militer Teheran terlibat perselisihan fisik secara terbuka dengan satuan tempur asing.

ADVERTISEMENT

Pihak otoritas keamanan melalui laporan resminya menyatakan bahwa sistem pertahanan udara nasional milik pemerintah telah berhasil melumpuhkan sejumlah pesawat tanpa awak yang mencoba melakukan penyusupan udara di langit Bandar Abbas.

Operasi penghalauan tersebut dilaporkan berujung pada kerusakan sejumlah fasilitas komersial di Dermaga Bahman, Pulau Qeshm, akibat gempuran udara masif yang diduga kuat dilancarkan oleh unit militer dari arah luar negeri.

Menanggapi insiden berdarah tersebut, seorang perwira tinggi militer Iran memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai kronologi kejadian yang memicu eskalasi bersenjata di tengah masa penangguhan pertempuran.

Beliau menegaskan posisi tempur pasukannya dalam sebuah pernyataan, “Setelah agresi militer AS terhadap kapal tanker minyak Iran, unit-unit musuh di Selat Hormuz menjadi sasaran rudal Iran. Setelah mengalami kerusakan, mereka terpaksa melarikan diri,” ujar pejabat tersebut.

Bersamaan dengan kejadian itu, pemerintah Iran mulai mengarahkan kecurigaan diplomatik yang sangat serius kepada Uni Emirat Arab yang dianggap memiliki andil dalam serangan terhadap infrastruktur strategis di wilayah kedaulatan mereka.

Tuduhan serius tersebut diperkuat dengan adanya berbagai laporan intelijen yang menduga bahwa dua unit drone penyerang tersebut berasal dari wilayah pemerintahan negara tetangga yang dianggap bertindak sebagai kepanjangan tangan entitas lain.

Melalui siaran resmi media pemerintah, pihak Teheran melontarkan sebuah peringatan yang sangat keras bahwa, “Sumber-sumber mengindikasikan tindakan permusuhan oleh pemerintah UEA, yang bertindak sebagai alat di tangan entitas Zionis. Jika ini benar, UEA akan membayar harga yang mahal atas tindakan permusuhan ini,” tulis laporan tersebut.

Kendati tuduhan serius tersebut telah menyebar luas ke publik, hingga detik ini belum ada pernyataan resmi maupun bantahan yang dikeluarkan oleh otoritas Uni Emirat Arab terkait isu serangan udara di wilayah Iran selatan.

Sementara itu, pihak Tel Aviv secara eksplisit memberikan penegasan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dalam rangkaian ledakan di Iran, meski pihak Amerika Serikat mengakui adanya pergerakan militer terbatas di lokasi tersebut.

Gedung Putih memberikan keterangan resmi melalui media bahwa serangan terhadap pelabuhan strategis tersebut merupakan tindakan operasional khusus namun ditegaskan bukan merupakan pertanda dari dimulainya kembali peperangan secara total.

Konflik besar antara aliansi Amerika-Israel melawan Iran ini sendiri telah bermula sejak akhir Februari lalu yang dipicu oleh kebuntuan perundingan nuklir hingga menyebabkan adanya perubahan pada struktur kepemimpinan tertinggi negara tersebut.

Dampak dari adanya blokade maritim yang berkelanjutan di jalur strategis ini telah memicu gejolak hebat pada pasar energi internasional serta kenaikan harga minyak dunia yang sangat meresahkan bagi banyak negara di dunia.

Meskipun sempat terjalin kesepakatan damai sementara yang diprakarsai oleh Presiden Donald Trump, situasi keamanan di lapangan kembali memanas setelah diluncurkannya operasi militer baru guna menguasai jalur navigasi di Teluk Persia.

Saat ini seluruh dunia tengah menantikan hasil dari upaya diplomatik yang tersisa, mengingat Washington telah mengambil keputusan untuk menunda operasi militernya demi memberikan ruang bagi tercapainya sebuah kesepakatan damai yang permanen.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung