Repelita Merauke - Gelombang pembabatan hutan primer demi memuluskan jalannya megaproyek pemerintah pusat di kawasan timur nusantara dilaporkan memicu kepunahan massal satwa endemik yang dilindungi negara.
Konflik ekologis berskala besar ini mengemuka pasca maraknya aksi pembubaran paksa kegiatan diskusi kebudayaan oleh jajaran personel militer di berbagai daerah baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
Dampak kehancuran rantai makanan hayati tersebut diungkapkan oleh pemerhati lingkungan Humberto Verbita melalui sebuah ulasan komprehensif mengenai kondisi riil di lapangan pada 14 Mei 2026.
Melalui publikasi di jejaring siber, dirinya menyoroti sebaran visual memilukan mengenai kondisi burung raksasa purba yang telantar di area pembukaan lahan perkebunan sawit raksasa.
Ia memaparkan sebuah tulisan kritis yang berbunyi “Beberapa hari belakangan ini seiring dengan pembubaran Nonton Bareng Film PESTA BABI oleh aparat TNI, di dunia maya berseliweran clip video dan foto -foto burung Kasuari, hewan endemik Papua berjalan terseok-seok mencari makan di antara puing-puing batang pohon kayu yang sudah dibuldozer oleh otoritas Proyek Strategis Nasional. Apa arti fenomen ini?”.
Penghancuran bentangan rawa dan vegetasi hutan hujan dataran rendah di wilayah Papua Selatan dituding telah memutus siklus simbiosis mutualisme yang telah terbentuk selama ribuan tahun evolusi alamiah.
Aktivitas pengerukan tanah menggunakan alat berat secara masif tidak hanya merusak tutupan kanopi hijau melainkan mematikan jalur migrasi fauna mamalia darat seperti rusa dan walabi.
Spesies burung endemik yang sangat sensitif terhadap polusi suara mesin dilaporkan kehilangan area bersarang secara permanen sehingga terancam lenyap sebelum sempat diteliti secara ilmiah oleh akademisi.
Kerusakan parah juga melanda ekosistem perairan akibat sedimentasi lumpur proyek yang mencemari aliran sungai dan merusak tempat pemijahan komoditas ikan air tawar di pedalaman.
Dampaknya masyarakat adat kini mulai kesulitan mendapatkan pasokan protein alami yang selama berabad-abad menjadi tumpuan utama kelangsungan hidup komunitas mereka di dalam hutan.
Pakar ekologi tersebut memungkas keterangannya dengan menegaskan bahwa esensi utama dari polemik ini adalah perwujudan nyata dari keserakahan modal yang mengabaikan hukum keseimbangan alam demi mengejar keuntungan finansial sepihak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok