Berita, Nasional

Disaat Pidato Prabowo Dipuji Dunia, Ibu Hamil di Tapsel Justru Ditandu 6 Jam Lewati Hutan Demi Bertahan Hidup

Repelita.net

14 May 2026 13:59 WIB • 729 view

Disaat Pidato Prabowo Dipuji Dunia, Ibu Hamil di Tapsel Justru Ditandu 6 Jam Lewati Hutan Demi Bertahan Hidup
Foto: Istimewa

Repelita Tapanuli Selatan - Ironi besar melanda potret pembangunan nasional ketika narasi megah mengenai pidato Presiden Prabowo Subianto yang diklaim menginspirasi para pemimpin dunia di ajang World Economic Forum bertolak belakang dengan realitas kelam fasilitas dasar di pelosok daerah.

Di saat panggung internasional mengelu-elukan visi besar kepemimpinan dari tanah air, kenyataan pahit justru harus ditelan oleh warga pedalaman Sumatera Utara akibat hancurnya aksesibilitas dan minimnya fasilitas layanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

ADVERTISEMENT

Tragedi kemanusiaan yang memilukan menimpa seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay di Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan yang terpaksa dievakuasi warga secara darurat menggunakan tandu bambu beralaskan rotan seadanya.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Sabtu, 9 Mei 2026 tersebut memperlihatkan perjuangan puluhan warga desa yang harus berjalan kaki menembus rimbunnya hutan selama enam jam demi menempuh jarak sejauh 30 kilometer agar bisa menjangkau rumah sakit terdekat.

Seorang dokter kampung setempat bernama Samsul Bahri Sihombing mengonfirmasi bahwa dirinya sempat dipanggil oleh pihak keluarga untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi janin sebelum proses evakuasi yang melelahkan itu akhirnya diputuskan untuk dilakukan.

“Ternyata saya sampai di Dusun Aek Nabara, saya cek bayinya di dalam kandungan ibu itu sudah meninggal, menurut pengamatan saya. Makanya saya anjurkan dibawa ke rumah sakit. Makanya dibawa, digotonglah, ditandu rame-rame sekitar perjalanan 6 jam menempuh 30 kilometer biar sampai ke Kecamatan Sipirok,” kata Samsul.

Buruknya infrastruktur berupa jalan tanah sempit yang belum tersentuh aspal sama sekali memaksa sekitar 20 orang warga pria setempat harus saling bergantian memikul tandu maut tersebut karena jalur evakuasi tidak dapat diakses oleh kendaraan roda empat maupun roda dua.

“Roda dua saja pun jarang yang bisa lewat. Kalau pun bisa, dipaksakan warga. Jangankan pengaspalan, alat berat aja pun belum pernah masuk ke sana,” ujar Samsul.

Setibanya di pusat medis pada Minggu, 10 Mei 2026, tim dokter langsung mengambil tindakan bedah darurat di mana nyawa sang ibu berhasil diselamatkan dari masa kritis namun bayinya dinyatakan tidak dapat tertolong lagi akibat keterlambatan penanganan pengevakuasian.

“Operasinya berjalan, ternyata ibu itu sehat. Bayinya sudah meninggal dunia,” imbuh Samsul.

Ketiadaan tenaga medis profesional serta tidak adanya jaringan listrik memperparah isolasi wilayah tersebut karena banyak petugas kesehatan yang memilih mengajukan pindah tugas lantaran tidak sanggup bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas.

“Penerangan enggak ada. Bidan pun sudah pernah ditugaskan di sana enggak tahan orang itu. Langsung ngurus surat pindah,” ucap Samsul.

Petugas medis swadaya itu mengungkapkan bahwa potret kelam penundaan penanganan pasien darurat ini telah berulang kali terjadi dan dirinya mendesak jajaran pemerintah pusat maupun daerah segera memberikan hak infrastruktur layak bagi warga lokal.

“Kita belajar waktu dulu sama almarhum orang tua dengan menyuntik kalau ada orang yang luka. Mengobati orang di kampung-kampung. Saya berharap kepada pemerintah daerah atau pusat, kalau bisa saya dikasih izin. Saya bukan mengharapkan gaji pemerintah, saya hanya membantu kemanusiaan itu aja,” pungkas Samsul.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung