
Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan berbeda pendapat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait tujuan akhir perang melawan Iran yang telah berlangsung selama hampir dua pekan.
Trump disebut ingin segera mengakhiri konflik setelah mengklaim sebagian besar tujuan militer telah tercapai, sementara Netanyahu justru bersikeras melanjutkan serangan hingga tuntas .
Meski keduanya terus berkomunikasi intens hampir setiap hari, namun pejabat Gedung Putih mulai khawatir Israel tetap memperluas operasi militernya termasuk dengan menargetkan industri minyak Iran.
Dikutip dari berbagai sumber, Washington juga dikabarkan tidak senang dengan serangan Israel terhadap fasilitas energi Iran dan meminta agar aksi tersebut tidak diulang tanpa persetujuan terlebih dahulu .
Perbedaan strategi ini menunjukkan prioritas yang berbeda di mana AS lebih fokus pada melemahkan program nuklir dan militer Iran, sementara Israel menargetkan perubahan kekuasaan di Teheran .
Di tengah konflik yang masih berlangsung, Republik Islam Iran juga memperketat blokade Selat Hormuz yang berdampak signifikan pada pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Data yang dihimpun menyebutkan per Maret 2026 laporan menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang signifikan antara Amerika Serikat dan Israel terkait perang melawan Iran yang dimulai sejak akhir Februari 2026.
Kendati AS dan Israel melakukan operasi militer gabungan, tapi perbedaan utama terletak pada ambisi politik dan kerangka waktu konflik tersebut.
Trump awalnya memproyeksikan operasi militer selama 4 hingga 5 minggu untuk menghancurkan infrastruktur militer strategis Iran .
Namun memasuki minggu ketiga Trump dilaporkan mulai ingin mengakhiri konflik guna membatasi dampak ekonomi global dan lonjakan harga minyak yang meresahkan pasar .
Sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan lebih condong untuk melanjutkan tekanan militer tanpa batas waktu yang pasti demi memastikan ancaman dari Iran benar-benar hilang secara permanen .
Menurut data yang beredar fokus utama Washington adalah melumpuhkan kemampuan nuklir dan rudal balistik Teheran serta mendorong perubahan rezim melalui tekanan internal daripada pendudukan militer jangka panjang .
Sedangkan Israel memiliki tujuan yang lebih agresif termasuk serangan dekapitasi terhadap seluruh kepemimpinan tinggi Teheran seperti yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di awal konflik .
Meskipun kedua negara berkomunikasi hampir setiap hari dan berkoordinasi secara operasional, para analis menilai mereka belum memiliki kesepakatan yang jelas mengenai titik keluar yang sama .
Ketegangan ini muncul di tengah kerugian militer Amerika Serikat yang dilaporkan mencapai hampir 2 miliar dolar dalam dua minggu pertama operasi, yang menambah tekanan bagi Washington untuk segera mencari penyelesaian konflik.
Sementara itu petinggi Iran kembali menegaskan bahwa pihaknya siap meladeni perang total terhadap Amerika dan zionis Israel, seperti yang diungkapkan oleh Komandan Keamanan Iran Ali Larijani.
Ia bahkan melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dengan menyatakan Iran siap menghadapi perang panjang dan tidak gentar menghadapi konflik dengan Amerika Serikat maupun Israel .
Menurut Larijani militer IRGC telah dipersiapkan untuk menghadapi konflik berkepanjangan, dan pihaknya tidak akan mempermasalahkan biaya yang harus dikeluarkan untuk perang ini.
Teheran mengklaim telah melancarkan serangan lanjutan tepat mengenai kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara zionis dalam gelombang serangan rudal Kheibar ke-10 .
Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran Ebrahim Zolfaghari melalui pernyataan resmi mengenai operasi militer terbaru terhadap pendudukan Israel .
Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi Zolfaghari mengatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam telah melancarkan serangan rudal Kheibar gelombang ke-10 yang menyasar kantor perdana menteri rezim zionis Israel dan markas komandan angkatan udara mereka.
Ia menekankan serangan itu direncanakan dengan matang, berlangsung mengejutkan, dan berhasil melancarkan pukulan yang signifikan .
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Siapapun yang menyerang kalian, maka balaslah setimpal dengan serangannya," kata Zolfaghari mengawali pernyataannya.
Ia mengatakan bahwa kantor perdana menteri rezim zionis Netanyahu yang kriminal dan markas komandan angkatan udara militer mereka telah menjadi target serangan utama Iran.
"Serangan menggunakan rudal Kheibar gelombang ke-10 yang terencana dan mengejutkan," tuturnya.
Menurut dia angkatan bersenjata Republik Islam Iran telah berhasil memberikan pukulan telak kepada musuh.
"Hingga saat ini nasib perdana menteri rezim zionis tersebut masih belum jelas dan diliputi ketidakpastian. Keberhasilan serangan rudal gelombang 10 di wilayah pendudukan ini memang difokuskan langsung ke pusat pemerintahan rezim zionis," tuturnya.
"Sampai detik ini, unit pertahanan udara kami juga telah berhasil menembak jatuh 3 jet tempur Amerika Serikat yang mencoba menyerang," sambungnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kendati AS dan rezim Israel memulai perang terbaru namun mereka tak punya pilihan lain selain menghadapi perlawanan sengit.
"Kami telah memiliki waktu dua dekade untuk mempelajari kekalahan militer AS di sebelah timur dan barat kami. Kami telah mengambil pelajaran yang sesuai," katanya merujuk pada invasi militer AS ke Irak dan Afghanistan.
"Pemboman di ibu kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang," sambungnya.
"Sistem Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan dan bagaimana perang akan berakhir," tegas Araqchi.
Para analis memperingatkan bahwa perbedaan strategi antara Washington dan Tel Aviv ini dapat dimanfaatkan Iran untuk memecah belah koalisi lawan .
Middle East Monitor dalam analisisnya menyebut bahwa perang yang telah dipersiapkan Netanyahu selama bertahun-tahun justru berpotensi menimbulkan isolasi politik dan kegagalan strategis baginya .
Trump dinilai tidak menunjukkan keinginan mengerahkan pasukan darat ke kawasan atau terlibat dalam konflik berlarut-larut dan tampaknya bersiap menahan aksi militer setelah memperoleh semacam perjanjian atau mengumumkan kemenangan politik .
Langkah tersebut dapat menempatkan Israel pada posisi lebih sulit di tengah kemampuan militer Iran yang masih kuat, termasuk jaringan sekutu regional, keunggulan drone, serta perang asimetris .
Semua faktor tersebut dapat menjadi penentu dalam perang berkepanjangan yang merugikan kedua belah pihak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

