Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Utusan Trump Ditolak Mentah-mentah, Mojtaba Khamenei: Kepemilikan Senjata Nuklir Adalah Hak Kedaulatan Iran

 

Repelita Jakarta - Pemerintah Iran dikabarkan telah menolak mentah-mentah permintaan dari utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah Steven Witkoff yang datang membawa pesan gencatan senjata di tengah konflik berkepanjangan.

Disitat dari kanal YouTube Kompas ada dua pesan yang ditolak salah satunya terkait genjatan senjata yang ditawarkan Amerika Serikat sebagai upaya meredakan ketegangan.

Penolakan ini semakin menegaskan sikap tegas Teheran di bawah kepemimpinan baru yang tidak mau tunduk pada tekanan negara adidaya.

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan hak kedaulatan Iran yang tidak dapat dinegosiasi oleh siapapun di dunia internasional.

Sontak pernyataan ini memicu perhatian internasional karena menandai perubahan drastis dari kebijakan pendahulunya yang masih bersedia bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

"Mereka membunuh orang yang sedang bernegosiasi. Jadi orang yang membuat bom telah tiba," kata Sayyid Mojtaba seperti dikutip dari vanguardngr.com.

Pernyataan ini menandai perubahan drastis dari kebijakan pendahulunya yang masih bersedia bernegosiasi dengan AS di meja perundingan.

Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak mengakui klaim kemenangan sepihak yang digaungkan Washington selama ini.

Alih-alih menyetujui genjatan senjata Teheran justru memberi sinyal untuk melanjutkan gempuran dan mempertahankan kendali penuh di Selat Hormuz.

Republik Islam itu pun menegaskan konflik hanya akan berakhir melalui perjanjian perdamaian yang permanen dengan jaminan tak ada agresi baru terhadap Iran.

Terlebih Iran disebut akan memperluas daftar target strategis serangannya dengan memasukkan sejumlah kantor perusahaan teknologi global sebagai target yang dianggap sah.

Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Microsoft, Nvidia, IBM, Oracle, dan Palantir Technologies masuk dalam daftar target potensial serangan Iran.

Lokasi yang disebut meliputi wilayah Israel, Dubai, dan Abu Dhabi, yang dinilai terkait dengan dukungan teknologi dan intelijen terhadap lawan Iran.

Pernyataan ini semakin menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik yang lebih luas ke sektor ekonomi digital.

Diberitakan sebelumnya Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Sayyid Mojtaba Khamenei mengambil keputusan yang akan mengubah peta geopolitik kawasan dengan membatalkan semua perjanjian internasional terkait penghentian program nuklir.

Ia menganggap kepemilikan senjata nuklir sebagai hak kedaulatan yang tidak dapat dinegosiasikan dengan negara manapun termasuk Amerika Serikat.

Perlawanan yang dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam juga masih berlangsung dengan melancarkan serangan intens ke wilayah Israel.

Iran dilaporkan melancarkan serangan intens ke wilayah Israel dan aset Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim militernya menembakkan rudal terus-menerus selama lebih dari 3 jam tanpa henti ke berbagai sasaran strategis.

Tak hanya itu Teheran juga disebut mengerahkan Rudal Khaibar dalam jumlah terbesar yang pernah dilakukannya sepanjang sejarah konflik.

Militer Iran menegaskan tidak akan menghentikan serangan sampai ancaman benar-benar hilang dari kawasan dan keamanan nasional terjamin.

Serangan ini dilaporkan menghantam sejumlah lokasi strategis termasuk pusat komunikasi dan aset militer Israel serta menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Irak.

Selain itu IRGC juga mengancam untuk memblokir Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel sebagai bentuk tekanan ekonomi.

Presiden AS Donald Trump kembali sesumbar bahwa pihaknya bakal melancarkan serangan 20 kali lebih berat terhadap Iran jika rute strategis itu masih diblokade.

Namun IRGC membalas tekanan tersebut dengan ancaman untuk terus melakukan blokade sampai Amerika Serikat benar-benar menghentikan serangannya ke Teheran.

Blokade ini pun membuat ratusan kapal industri dan minyak terpaksa menunda pelayarannya di tengah laut akibat ketidakpastian keamanan.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani juga telah menegaskan bahwa pihaknya tak akan kompromi dengan AS dalam bentuk apapun.

"Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS," tegasnya memberikan sikap resmi Tehran yang semakin keras di bawah kepemimpinan baru.

Ali juga mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang negaranya dan menyebut Trump khawatir dampak kerugian dari tindakannya menyerang Teheran.

"Dia sekarang khawatir tentang kerugian lebih lanjut dari tentara Amerika. Dengan delusinya sendiri, dia telah mengubah slogan 'Amerika Pertama' menjadi 'Israel Pertama' dan mengorbankan pasukan Amerika untuk nafsu kekuasaan Israel," sindir Ali.

Sementara itu pejabat militer Iran mengatakan mereka akan terus menyerang aset AS di kawasan tersebut serta posisi Israel di wilayah pendudukan.

"Kami telah memutuskan bahwa kami tidak akan mundur atau membiarkan Amerika Serikat pergi tanpa konsekuensi. Kami tidak akan menghentikan perang ini," kata Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigadir Jenderal Kiomars Heidari.

Menurutnya Iran akan terus melanjutkan perang hingga lautan dipenuhi peti mati perwira, bintara, dan tentara AS yang dikirim kembali ke Amerika Serikat.

“Bagi kami, tidak masalah berapa lama perang ini berlangsung. Kami sudah pernah mengalami perang delapan tahun sebelumnya. Kami akan mengakhiri perang ini hanya ketika kami telah mencapai tujuan kami dan memaksa musuh untuk menyesali tindakan memalukannya,” tegas Heidari.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved