
Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan terkait perang melawan Iran dengan mengatakan operasi militer AS dalam konflik tersebut berjalan jauh lebih cepat dari rencana awal yang ditetapkan.
Trump juga mengklaim hampir 90 persen rudal milik Iran telah berhasil dihancurkan oleh serangan udara AS-Israel selama dua pekan terakhir.
"Semua berjalan sangat baik. Kami jauh lebih maju dari jadwal, jauh sekali. Kami bahkan tidak menyangka bisa berada sejauh ini. Kami sudah melumpuhkan hampir 90 persen rudal mereka," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News dikutip pada Sabtu 14 Maret 2026.
Ketika ditanya mengenai laporan yang menyebut pemerintahan Iran kemungkinan tidak akan runtuh dalam waktu dekat, Donald Trump mengatakan bahwa hal tersebut memang menjadi tantangan besar.
Namun ia meyakini perubahan itu pada akhirnya akan terjadi meski tidak dalam waktu dekat seperti yang diharapkan sebelumnya.
"Itu rintangan yang sangat besar… hal itu akan terjadi, tetapi mungkin tidak segera," kata dia mengakui kompleksitas situasi.
Menanggapi pertanyaan tentang persediaan uranium yang telah diperkaya milik Iran, Trump mengatakan AS tidak sedang fokus pada hal itu saat ini.
Namun dirinya tidak menutup kemungkinan ke depannya akan fokus pada persediaan uranium milik Iran sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
"Pada titik tertentu mungkin kami akan memperhatikannya," kata dia memberikan sinyal.
Sebagai informasi ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat terutama sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara bersama yang menyasar Iran pada 28 Februari 2026.
Menurut otoritas Iran serangan itu telah menewaskan sekitar 1.300 orang termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei serta melukai lebih dari 10.000 orang lainnya.
Aksi tersebut kemudian dibalas oleh Iran dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk.
Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat seperti UEA, Bahrain, Qatar, dan Kuwait menjadi sasaran utama serangan balasan Iran.
Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan pada infrastruktur sipil di sejumlah negara termasuk fasilitas energi dan permukiman warga.
Iran terus melancarkan gelombang demi gelombang serangan drone dan rudal ke berbagai target strategis di kawasan meskipun menghadapi serangan udara masif dari AS-Israel.
Korps Garda Revolusi Islam mengklaim telah berhasil menghantam sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan menimbulkan kerusakan signifikan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa serangan balasan akan terus dilancarkan sampai Amerika Serikat dan Israel menghentikan agresi mereka.
Perang yang telah memasuki hari ke-15 ini menewaskan lebih dari 1.300 orang di pihak Iran termasuk pemimpin tertinggi sebelumnya serta puluhan ilmuwan nuklir dan komandan militer.
Dunia internasional terus mendesak dilakukannya gencatan senjata sementara Iran mengajukan tiga syarat utama yaitu pengakuan hak-hak sah Iran, pembayaran reparasi, dan jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

